Bondowoso (beritajatim.com) – Bisnis tembakau kasturi di Kabupaten Bondowoso tahun ini sedikit lesu dibandingkan jenis rajangan.
Ada ragam faktor penyebabnya. Salah satunya perihal margin keuntungan dari kasturi yang lebih sedikit dibandingkan rajangan.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid mengatakan, petani tembakau rajangan kini lebih meraup untung lebih banyak.
“Harga penjualan antara rajangan dan kasturi memang hampir sama, tapi biaya produksi rajangan lebih rendah,” kata Yasid kepada BeritaJatim.com, Jumat (13/9/2024).
Ia menyebut, harga jual kasturi daun bawah di kisaran Rp 35 ribu per kilogram. Sedangkan daun atas mencapai Rp 70 ribu per kilogram.
“Jadi rata-ratanya bisa dibilang harga jualnya Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan BEP (Break Event Point) atau besaran produksi Rp 50 ribu per kilogram. Margin untung Rp 10 ribu per kilogram,” terangnya.
Harga ini pun jika masuk ke gudang pada saat yang tepat yakni pada September tahun 2024.
“Yang mengkhawatirkan ini kan ada petani yang tanamnya baru Agustus. Jadi bulan ini belum bisa jual,” tuturnya.
Tembakau kasturi memerlukan waktu pengolahan yang lebih lama dibandingkan rajangan.
“Kasturi proses bisa lebih dari 15 hari pasca panen. Sedangkan rajangan 2-3 hari sudah bisa jadi uang,” tuturnya.
Di sisi lain, harga jual rajangan juga menggiurkan. Di antara Rp 50 ribu sampai Rp 72 ribu per kilogram.
“Sedangkan BEP nya Rp 40 ribu per kilogram. Jadi biaya produksi lebih rendah, tapi margin keuntungan lebih besar tahun ini. Sekitar Rp 20 ribu per kilogram,” bebernya. (awi/ted)






