Banyuwangi (beritajatim.com) – Langkah maju Kabupaten Banyuwangi di panggung internasional kembali mencuri perhatian dunia. Pesisir timur Pulau Jawa ini dipercaya menjadi pusat konsolidasi penting bagi jaringan kota-kota paling cerdas dan inovatif di Asia Tenggara.
Berbagai terobosan berbasis teknologi dan kelestarian lingkungan yang digagas dari pelosok desa kini sejajar dengan kota-kota besar di ASEAN. Penunjukan ini menegaskan posisi Indonesia yang semakin diperhitungkan dalam pengembangan smart city regional.
Delegasi Indonesia dalam Asean Smart Cities Network (ASCN) menggelar pertemuan di Kabupaten Banyuwangi pada Senin, 20 Juli 2026. Pertemuan ini terhubung secara daring dalam rapat tahunan ASCN ke-9 yang berpusat di Filipina.
Kegiatan berskala internasional ini diikuti oleh 11 negara anggota ASEAN serta deretan negara mitra strategis seperti Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab, hingga Rusia. Pertemuan dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal.
Delegasi Indonesia diwakili oleh enam kabupaten/kota terpilih, yakni Kabupaten Banyuwangi, DKI Jakarta, Kota Makassar, Kabupaten Sumedang, Kota Semarang, dan Kota Denpasar.
“Kami memusatkan pertemuan konsolidasi di Kabupaten Banyuwangi. Awalnya, saat ASCN berdiri pada 2018, yang kita promosikan ke tingkat Asia Tenggara, yakni DKI Jakarta, Makassar, dan Banyuwangi. Sekarang kita tambah 3 lagi,” kata Safrizal.
Ia menegaskan bahwa ajang ini menjadi tempat unjuk gigi sekaligus berbagi praktik baik (best practice) yang dapat dicontoh oleh kota-kota lain di Asia Tenggara.
“Di sinilah kita bisa sharing berbagai praktek baik yang dilakukan masing-masing delegasi. Kita bisa saling tukar pikiran, bahkan bisa saling mencontoh praktek baiknya,” ujarnya.
Pamer Olah Sampah Jadi Energi Hingga Layanan WA 24 Jam
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan berbagai lompatan inovasi pengembangan smart city dengan pendekatan khas berbasis desa (smart village).
“Banyuwangi hadir bersama jaringan kota ASCN lainnya untuk saling berbagi praktek baik terkait program Smart City dengan negara ASEAN. Banyuwangi sendiri mengembangkan smart city dengan pendekatan smart village,” kata Ipuk.
Salah satu inovasi unggulan yang dipamerkan adalah pengolahan sampah sirkular melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R). Pengolahan ini sanggup menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF) skala industri.
“Program ini mampu mengurangi sampah yang tidak terolah lebih lanjut, bahkan juga telah mampu mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Sebanyak puluhan ton RDF tersebut telah dikirim untuk menjadi bahan bakan industri,” paparnya.
Tak berhenti di situ, Ipuk juga memperkenalkan layanan Oasis Wangi, yaitu sistem telekonsultasi kesehatan gratis 24 jam nonstop cukup melalui platform WhatsApp bersama mitra Noora Health.
“Cukup melalui WhatsApp, warga bisa menanyakan berbagai informasi kesehatan secara realtime. Juga bisa menerima tips dan edukasi kesehatan secara reguler,” terang Ipuk. [tar/ian]






