Blitar (beritajatim.com) – Blitar tengah hujan ringan pada Senin (3/10/2022). Guyuran air dari awan sudah berlangsung sejak dini hari namun tak juga berhenti kala siang.
Sesekali, tetesan gerimis berubah menjadi deras namun relatif tak berlangsung lama. Udara terasa dingin, dengan aroma segar dari hujan.
Tetapi, suasana terasa hangat tatkala tim beritajatim.com berkunjung ke Pendopo Ronggo Hadinegoro di utara Aloon-aloon Blitar.
Tim beritajatim.com yang terdiri dari Direktur Utama Ainur Rohim, Pemimpin Redaksi Dwi Eko Lokononto, Redaktur Pelaksana Teddy Ardianto Hendrawan, dan Redaktur Senior Ahmad Baiquni diterima langsung oleh Wakil Bupati Blitar, Rahmat Santoso didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Blitar, Eko Susanto.
“Saya itu malah, wis mulai biyen lah cedhak ambek wartawan, cedhak kabeh (sudah lama dekat dengan wartawan, dekat semua),” ujar Rahmat mengawali perbincangan.
Rahmat berkisah bagaimana kedekatannya dengan sejumlah awak media. Bagi dia, wartawan juga merupakan kawan dekat.
“Kalau saya nggak bisa tidur ya cangkruk mbek arek-arek media (nongkrong dengan anak-anak media), ngopi,” kata dia.
Kedekatan tersebut, kata dia, sudah berlangsung sejak lama. Sejak Rahmat masih berprofesi sebagai pengacara.

Perbincangan lalu berjalan begitu ringan dan menarik. Rahmat banyak berbagi cerita tengan pengalamannya. Mulai ketika berurusan dengan sebuah perkara hingga kisahnya menjadi kepala daerah.
Dalam obrolan tersebut, Rahmat mengungkapkan saat ini Pemerintah Kabupaten Blitar tengah menggencarkan program Satu Desa Satu Produk. Program ini digalakkan untuk menggeliatkan perekonomian berbasis desa.
Program tersebut disusun terinspirasi dari konsep yang diterapkan di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menerapkan spesialisasi pada masyarakat desa terkait produk industri.
“Kampung iki gawe sadel tok, kampung iki gawe kerangka tok. Wis engko dilebokno pabrik (Kampung ini buat sadel saja, kampung ini buat kerangka saja. Sudah nanti dimasukkan pabrik) jadi sepeda motor,” kata dia.
Ada satu pengalaman menarik yang diceritakan Rahmat pada beritajatim.com. Cerita ini menggambarkan bagaimana pentingnya media di mata Rahmat.

Suatu hari, Rahmat mengaku mendapat undangan dari salah satu komunitas pecinta mobil di Blitar. Dia diminta hadir di acara gathering anggota komunitas tersebut yang digelar di salah satu tempat wisata.
Rahmat sempat bertanya kegiatan apa yang bakal digelar komunitas tersebut. Dia mengaku sempat memberikan masukan agar panitia membuat acara yang bermanfaat seperti bakti sosial dan sebagainya.
Saran itu ternyata tidak dijalankan oleh panitia. Apalagi setelah mengetahui rencana kegiatan yang hanya diisi makan-makan dan hiburan, Rahmat memutuskan untuk tidak hadir.
“Kalau hanya makan aku juga bisa. Terus apa manfaat yang didapat warga saya? Akhirnya saya tidak jadi datang,” ungkap dia.
Di tengah perbincangan itu, telepon seluler Rahmat bergetar. Dia segera mengangkat dan menjawab panggilan tersebut. Berbincang serius dengan orang penting di balik telepon itu.
Perbincangan hangat itu harus berhenti. Rahmat harus menjalankan tugas yang saat itu cukup mendesak.






