Banyuwangi (beritajatim.com) – Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen Gakum), Dr. Rasio Ridho Sani, melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi. Dia mendatangi salah satu hutan tertua di Pulau Jawa yakni Taman Nasional Alas Purwo.
Di lokasi ini, ada sejumlah tempat yang menjadi jujugannya. Di antaranya, Pantai Plengkung atau sering disebut G-land), feeding ground dan Wildlife Research Statison (WRS) Sadengan, Goa istana, Pantai Trianggulasi dan Airstrip Jatipapak, Hutan Mahoni, dan Mangrove.
Ada hal menarik saat Dr. Rasio Ridho Sani berada di pantai Plengkung. Saat itu, ada sejumlah surfer atau peselancar asal luar negeri yang menikmati ombak di pantai tersebut.
Tak ayal, pihaknya mencoba bercengkrama dengan bule tersebut. Di antaranya, ada dua nama yakni Corey dari Australia dan Leray dari Amerika Serikat.
Pada percakapan itu, Dr. Rasio Ridho Sani bertanya mengenai pendapatnya tentang seputar G-land. Keduanya, mengakui bahwa ombak di Pantai Plengkung G-land merupakan salah satu ombak terbaik di dunia.
“Dengan konsistensi gelombang besar dan tinggi yang membentuk terowongan (barrel) air,” kata peselancar itu.
Lalu, Dirjen Gakum KLHK ini melanjutkan perjalanan menuju pantai Trianggulasi. Di tempat ini, para rombongan berkesempatan melepasliarkan tukik atau anak penyu ke laut.
Total 50 ekor tukik dari jenis Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) dan Penyu Abu-abu (Lepidochelys olivacea) yang dilepas kembali ke habitatnya.
“Kami mengapresiasi kinerja Kepala Balai TN Alas Purwo yang dapat menjaga biodiversity (keanekaragam hayati) yang diciptakan dan dititipkan Tuhan Yang Maha Esa di wilayah Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo,” terangnya.
Baca juga:
Kolaborasi Banyuwangi dan Pemerintah Pusat Bikin Ribuan Rumah Tak Layak Huni Jadi Baru
Taman Nasional Alas Purwo terdapat ekosistem hutan hujan dataran rendah dan mangrove yang bagus dan terjaga. Selain itu juga terdapat satwa yang mulai langka dan dilindungi namun masih mudah dijumpai.
Contohnya, di Sadengan seperti Banteng (Bos javanicus), Macan Tutul (Panthera pardus melas), Rusa (Cervus timorensis), Merak hijau (Pavo muticus) dan berbagai jenis burung lainnya seperti Rangkok, Kangkareng, Elang Jawa, Jalak, Cucak Hijau.
“Kekayaan biodiversity (keanekaragam hayati) ini harus dijaga karena Tuhan Yang Maha Esa menciptakan ini tidak akan terulang. Kita mungkin sudah mengetahui bahwa dulu ada Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Pulau Jawa, dan sejak tahun 1970-an oleh IUCN (otoritas dunia di bidang konservasi keanekaragam hayati) dinyatakan telah punah,”
“Dan Tuhan tidak akan menciptakan Harimau jawa lagi untuk kita. Ini harus kita sadari bersama-sama termasuk oleh lapisan masyarakat,” ungkapnya. (rin/ted)






