Surabaya (beritajatim.com) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) menegaskan komitmennya untuk mengawal Proyek Strategis Nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land (SWL).
Ketua BEM Unair Aulia Thaariq Akbar mengungkapkan kekhawatiran pihaknya terkait dampak dari proyek reklamasi senilai Rp72 triliun tersebut terhadap masyarakat, khususnya bagi para nelayan.
“Keberpihakan kami jelas, yaitu pada masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut. Kami akan terus memperjuangkan aspirasi mereka,” ujar Attha, sapaan ketua BEM Unair itu kepada beritajatim.com, Kamis (8/8/2024).
BEM Unair mencatat bahwa hingga saat ini, kajian dan masterplan proyek SWL tersebut belum tersedia untuk publik. Sehingga, hal itu memicu adanya keraguan tentang transparansi dan persiapan proyek.
“Kami sama sekali belum tahu, bahkan tidak bisa diakses atau mungkin belum diberikan akses. Kami belum menemukan akses masterplan proyek ini, apakah belum tersedia atau memang tidak untuk umum,” katanya.
Attha membeberkan, adapun kekhawatiran utama dari BEM Unair adalah potensi adanya dampak negatif dari proyek reklamasi di kawasan pesisir timur Surabaya tersebut terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kami khawatir proyek ini akan selesai dan menimbulkan kerugian yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Jangan sampai, setelah proyek selesai, dampaknya baru terasa,” imbuhnya.
Karena itu, BEM Unair menuntut agar pihak terkait segera memberikan akses kepada publik terkait informasi proyek dan memastikan kajian mendalam dilakukan untuk menghindari dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat nelayan.
Sebagai informasi, rencana reklamasi PSN SWL seluas 1.084 hektar ini menghabiskan anggaran Rp 72 triliun. Rencana ini mendapat penolakan keras dari para nelayan karena mereka khawatir proyek ini akan mengancam mata pencaharian dan lingkungan hidup mereka. [ipl/aje]






