Kepergian ‘Bejo’ Sugiantoro saat bermain sepak bola di Lapangam SIER, Selasa (25/2/2025), memunculkan duka di kalangan Bonek, sebutan suporter Persebaya Surabaya. Ada banyak kesan mendalam yang dirasakan sejumlah Bonek yang diceritakan kepada Beritajatim.com.
Tulus Budi, salah satu Bonek, menyebut Bejo Sugiantoro sebagai sosok yang berani dan punya prinsip. “Dia berani berpendapat, selama sesuai dengan prinsip yang diyakininya,” katanya, Rabu (26/2/2025).
Tulus ingat betul bagaimana saat ratusan Bonek menyambut kedatangan tim Persebaya usai pertandingan melawan Arema di Malang, 6 Oktober 2018. Persebaya saat itu kalah 0-1. Tensi pertandingan memanas, setelah Yuli Sumpil turun ke lapangan menantang kiper Persebaya Alfonsius Kelvan.
Kendati kalah, rombongan Persebaya disambut luar biasa oleh Bonek saat memasuki Surabaya. Di tengah sambutan itu, ada seorang Bonek yang meminta izin berfoto bersama Bejo.
Foto bersama bukan hal asing bagi Bejo. Kukuh Ismoyo, seorang pegiat Bonek Writers Forum, menyebut mantan pemain yang biasa mengenakan nomor punggung lima itu ramah dan mudah menerima tawaran foto bersama.
Namun hari itu berbeda. “Bejo waktu itu menolak berfoto bersama karena Bonek tadi, entah siapa, membawa syal bertuliskan kalimat yang tidak menghormati Arema. Saya lupa apa kalimatnya, Tapi Bejo menolak dan mengatakan, ‘jangan seperti ini’,” kata Tulus.
Menurut Tulus, Bejo menghormati rivalitas Persebaya dan Arema. “Namun dia menempatkan Arema sebagai lawan, bukan musuh,” katanya.
Penghormatan terhadap lawan ini terlihat saat Sugiantoro meminta para Bonek di tribun utara unruk mengembalikan spanduk terbalik bertuliskan Arema FC di papan skor ke posisi semula, 9 April 2019. “Minta tolong agar spanduknya jangan dibalik. Katanya Bonek menjadi yang terbaik,” katanya saat itu.
Karakter yang dimiliki Bejo ini juga ditunjukkan di lapangan: bermain taktis, sportif, dengan tetap menghomati lawan. Kukuh Ismoyo menyebut Bejo lugas dan disiplin, namun tidak urakan. “Almarhum adalah role model pemain belakang yang harus diikuti oleh para pemain saat ini,” katanya.
Rojil Nugroho Bayu Aji, Bonek yang berprofesi dosen di Universitas Negeri Surabaya, ingat benar pesan Bejo saat bertemu. “Menjadi pemain bola itu tidak instan dan membutuhkan kedisiplinan berlatih, menjaga performa dan kondisi pikiran untuk tenang karena bermain sepak bola nggak boleh grusa-grusu,” katanya, menirukan ucapan Bejo.
Tak heran jika kemudian di mata Jojo Raharjo, seorang penggemar Persebaya yang kini tinggal di Jakarta, Bejo adalah pemain fenomenal dalam sepak bola Indonesia. Prestasinya dua kali mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga Indonesia pada 1997 dan 2004 dan karirnya di tim nasional sudah cukup menunjukkan itu semua.
“Belum ada bek tengah lokal Persebaya lain setangguh Bejo. Dari era Fandry Imbiri, Syaifuddin, Kadek Raditya dan Riswan Lauhin ini terutama. Di zaman lain memang ada Wayan Diana, Hansamu Yama, dan Rizky Ridho. Kecuali nama terakhir, leadershipnya tak sekuat Bejo. Meminjam istilah Om Rudy Keltjes, salah satu legenda Persebaya, kapasitas Bejo membaca permainan sungguh tak tertandingi,” kata Jojo.
Setelah mengakhiri karier sebagai pemain di sejumlah klub, Bejo menjadi salah satu asisten pelatih Persebaya pada 2018. Kukuh memuji pilihan Bejo menjadi pelatih. “Menjadi pelatih, adalah hal yang harus disadari para pemain Indonesia agar tak terseok-seok saat pensiun bermain dan tidak menjadi apa-apa,” katanya.
Selama menjadi pelatih, Bejo pun menunjukkan keterbukaannya kepada suporter. ‘Cak Cong’ Husin, anggota Green Nord, menyebut Bejo sebagai sosok yang mau menyerap masukan dari suporter saat menjadi bagian dari tim pelatih Persebaya. “Saya sangat respek dengan yang dilakukan Bejo kepada suporter,” katanya.
Kematian Bejo bertepatan dengan keberhasilan Persebaya U-13 menjuarai Piala Soeratin di Stadion Sriwedari, Solo. Joko Kristiono, fotografer Emosijiwaku.com yang juga teman bermain Bejo di Ngaglik DKA, tengah bertugas di sana saat itu.
“Kami saling mengenal sejak kecil. Bahkan sering main bola di halaman Balai Kota Surabaya pada Sabtu malam atau Minggu pagi,” kenang Joko. Bejo memilih menjadi pemain sepak bola profesional, dan Joko melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai jurnalis.
Dan di bawah langit Solo yang makin gelap, Joko merasakan suasana berkabung tim Persebaya U-13 setelah mendengar kabar duka dari Surabaya, .
“Saya menyesal belum pernah mendukungnya di lapangan saat menangani Deltras di Liga 2. Lebih menyesal lagi, saya tidak bisa menemaninya saat mendengar kabar kepulangannya ke Maha Pencipta,” kata Joko. [wir]






