Persebaya kalah lagi. Tentu ini jadi kabar rutin. Kali ini pada pekan 24 Liga 1 Musim 2024-25, Persebaya kalah 0-2 dari tuan rumah Dewa United, di Stadion Pakansari, Bogor, Jumat (21/2/2025).
Di hadapan 266 penonton, Persebaya didikte Dewa United sepanjang 90 menit pertandingan. Dewa United yang menguasai 64 persen pertandingan, unggul melalui Alexis Messidoro pada menit 30 dan Alex pada menit 37.
Kekalahan ini tidak mengejutkan jika melihat grafik performa Dewa United yang kian menanjak. Jika melihat klasemen khusus hasil pertandingan putaran kedua, anak-anak asuhan Jan Olde Riekerink itu mencatatkan diri sebagai tim yang paling pesat kemajuannya.
Dari tujuh pertandingan awal putaran kedua, Dewa United sudah mengemas 18 angka dari potensi maksimal 21 angka. Tak heran jika tren positif ini mengantarkan mereka ke posisi runner-up klasemen sementara.
Capaian ini tertinggi dibanding klub lain, bahkan dibandingkan Persib Bandung yang memuncaki klasemen sementara (Persib dalam enam pertandingan putaran kedua telah mengemas 11 angka).
Sementara itu Persebaya layak disebut sebagai klub dengan progresi paling buruk di antara 18 klub Liga 1. Inilah tim dengan performa paling merosot di putaran kedua.
Raihan poin anak-anak asuhan Paul Munster ini sama sedikitnya dengan PSIS dan PSS, yakni empat angka. Pembedanya adalah selisih gol (PSIS minus 4, PSS minus 5. dan Persebaya minus 9).
Coba simak poin klasemen khusus untuk putaran kedua di bawah ini (catatan: sebagian tim masih bertanding enam kali)
1. Dewa United 18
2. Borneo 12
3. Persib 11
4. Semen Padang 11
5. Madura United 11
6. Malut United 11
7. Bali United 10
8. Barito 10
9. Persija 9
10. Persis 9
11. Persita 8
12. Arema 7
13. Persik 7
14. PSM 6
15. PSBS 5
16. PSIS 4
17. PSS 4.
18. Persebaya 4
Klasemen tersebut mengonfirmasi betapa buruknya performa Persebaya di putaran kedua. Bahkan tim juru kunci Persis Solo menunjukkan tren yang jauh lebih baik daripada Persebaya. Laskar Sambernyawa mengemas sembilan angka dari dua kemenangan, tiga hasil imbang, dua kekalahan.
Capaian Persis ini nyaris menyamai pemuncak klasemen Persib Bandung yang mengemas sebelas angka pada putaran kedua, dari tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan.
Merujuk pada grafik di atas, wajar jika kemudian Bonek menuntut Munster diganti. Tren terjun bebas Persebaya tidak boleh berlanjut. Kekalahan demi kekalahan akan mengirim Persebaya ke papan tengah, bahkan bisa jadi papan bawah jika melihat grafik kebangkitan tim-tim papan bawah dan tengah.
Mengganti pelatih di tengah musim memang sebuah pertaruhan. Persis Solo menunjukkan tren membaik setelah mengganti pelatih Milomir Seslija dengan Kim Swee-Ong. Sementara Dewa United menunjukkan peningkatan drastis setelah memilih bersabar bersama Jan Olde Riekerink.
Persebaya sendiri telah terbiasa mengganti pelatih di tengah musim sejak menjadi kontestan Liga 1 pada 2018. Sebagian besar menunjukkan hasil positif. Bajul Ijo kembali ke jalur kemenangan dan memperbaiki peringkat di klasemen akhir.
Namun pergantian Paul Munster jelas akan menjadi anomali nan ganjil. Nyaris jarang ditemui sebuah klub yang bertengger di papan atas berganti pelatih pada separuh perjalanan kompetisi. Saat ini Persebaya di peringkat ketiga dengan selisih dua angka dengan Dewa United di posisi runner-up dan sembilan angka dengan sang pemuncak klasemen Persib.
Cuma apa yang terjadi pada Persebaya saat ini juga sebuah anomali. Entah bagaimana, susah sekali bagi para pemain untuk mencetak gol ke gawang lawan. Taktik Munster agaknya sudah dibaca oleh tim-tim Liga 1 lainnya. Persebaya kehilangan ‘fear factor’. Bahkan di kandang sendiri.
Pergantian Paul Munster menyisakan pertanyaan klasik dan bahkan nyaris klise: siapa penggantinya. Adakah pelatih yang bisa membawa keajaiban dalam sepuluh pertandingan ke depan? Sementara di lain pihak, Persebaya harus siap mengeluarkan kompensasi untuk Munster jika dipecat di tengah masa kontrak.
Lebih penting lagi, manajemen Persebaya harus mulai mengevaluasi lebih serius tim ini. Bukan hanya pelatih, namun seluruh jajaran personel tim.
Berulangnya pergantian pelatih di tengah kompetisi menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres di tubuh tim ini. Persebaya selalu mengalami persoalan yang sama dari musim ke musim. Semuanya berujung pada pergantian pelatih.
Persebaya tidak boleh menjadi Sisifus, yang dihukum mendorong batu harapan untuk menjadi juara ke gunung, namun tidak pernah berhasil mencapai puncaknya. Biarlah tren kekalahan terhenti di Bogor. [wir]






