Jombang (beritajatim.com) – Ratusan korban banjir Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang masih bertahan di sejumlah titik pengungsian. Pasalnya, hingga hari ke-enam ini banjir belum juga surut.
Titik terendah, banjir setinggi betis. Sedangkan titik paling dalam setinggi leher orang dewasa. Untuk itu, agar tidak membahayakan, jaringan listrik di Dusun Beluk juga dipadamkan dalam beberapa hari terakhir ini.
Praktis, Dusun Beluk tak ubahnya kampung mati. Jika malam kondisi gelap gulita. Air tetap menggenang di jalan hingga memasuki rumah warga. Dari kejauhan, Dusun Beluk mirip kolam raksasa.
Hanya ada sejumlah laki-laki yang berjaga di ujung desa. Lalu bergerombol di pos kamling, serta di masjid dan musala. Mereka sengaja tidak ikut mengungsi karena untuk menjaga hewan ternak yang ditinggalkan pengungsi.
“Iya, kesana-kemari. Sekalian menjaga kampung, tidak ikut mengungsi ke balai desa. Karena ada hewan ternak yang ditinggalkan oleh warga,” ujar Supaat (54), salah satu warga ketika berada di Musala An Nur Dusun Beluk, Kamis (12/12/2024).
Di musala tersebut, Supaat ditemani sejumlah laki-laki. Mereka duduk-duduk di serambi musala sembali menikmati nangka muda. Ada juga kompor gas yang dipakai menjarang air ketika mereka hendak minum kopi.
Kepala Dusun (Kasun) Beluk Sistyo Budianto mengatakan bahwa banjir tersebut berasal dari luapan Afvour Watudakon. Banjir yang menerjang Dusun Beluk sudah memasuki hari keeam. Seiring dengan itu, banjir belum menunjukkan gejala surut.
Oleh sebab itu, seluruh warganya sudah mengungsi. Nah, untuk menjaga hal-hal yang tidak diingin, semisal orang yang tidak bertanggung jawab masuk kampung, maka di gerbang masuk desa dipasang portal atau palang bambu.

Kasun menyebut di Dusun Beluk terdapat 334 KK (kepala keluarga). Sedangkan jumlah warga sekitar 900 orang lebih. Seluruh warga sudah mengungasi. Lokasinya berbeda-beda. Ada yang ke rumah saudaranya, di masjid, musala, pos kamling, serta balai desa.
Bukan hanya itu, banjir juga merendam 85 hektar sawah di Dusun Beluk. Beruntung, lahan persawahan tersebut belum ditanami padi oleh warga. Area persawahan tersebut berubah seperti lautan.
Pernyataan senada diungkapkan Plt. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Wiku F Diaz. Dia mengatakan, hingga Kamis ini ratusan warga masih tinggal di tempat pengungsian.
BPBD Jombang membuka Posko pengungsian di Kantor Desa Jombok, Balai Dusun Plososari, serta Kantor Desa Blimbing. Dari tiga tempat pengungsian, ada sekitar 160-an orang. Jumlah pengungsi yang paling banyak ada di Kantor Desa Blimbing, ada 109 orang.
“Sedangkan di Balai Desa Jombok ada 63 orang. Tiga lokasi tersebut merupakan posko yang disiapkan oleh BPBD. Ada pula warga yang memilih mengungsi di rumah saudaranya, serta di masjid dan musala,” punngkas Wiku. [suf]






