Malang (beritajatim.com) – Forum Alumni Aktivis (FAA) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “OASE Gelap Terang Indonesia” pada Sabtu (25/10/2025). Acara reuni yang sarat dengan diskusi kritis ini bertempat di Auditorium Universitas Brawijaya (UB), Malang.
Seminar ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional untuk membedah tantangan bangsa menjelang Indonesia Emas 2045, dengan fokus pada kesenjangan sosial, krisis talenta, dan ancaman era digital.
Bertindak sebagai tuan rumah, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., membuka acara dengan paparan data yang tajam. Ia menyoroti ironi di balik pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5%.
“Kalau kita lihat, siapa yang paling menentukan ekonomi Indonesia? Faktanya, 87% (pekerja kita berpenghasilan) 3,7 juta per bulan. Mayoritas penduduk kita harus berjuang agar jadi lebih baik,” ungkap Prof. Widodo.
Rektor UB menegaskan, kesenjangan ekonomi dan sosial masih sangat tinggi, berakar dari akses pendidikan. “Hanya 13% yang menyelesaikan di pendidikan tinggi, (padahal) negara maju di atas 45%. Dari 3,8 juta lulusan SMA tiap tahun, baru 30% (yang) lanjut ke perguruan tinggi,” paparnya. Hal ini, menurutnya, berimbas langsung pada rendahnya kapasitas inovasi dan entrepreneur bangsa.

Narasumber sekaligus alumni PPMI UGM, Nezar Patria, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, membahas tantangan zaman yang berubah. Menurutnya, peran pers mahasiswa (Persma) tetap penting untuk menyuarakan sikap kritis.
“Membandingkan mahasiswa sekarang dengan mungkin 25 tahun yang lalu saya kira tidak begitu tepat, ya, karena tantangan-tantangan zaman sekarang itu berbeda dan bentuk media juga sudah berubah,” jelas Nezar.
Ia menekankan, Persma harus beralih ke platform digital untuk menjangkau audiens baru. Nezar juga meluruskan istilah sensor yang kerap dialamatkan ke Kominfo. “Apa yang (kami) lakukan adalah moderasi konten. Dan moderasi konten itu ada aturan undang-undangnya jadi bukan sensor,” tegasnya.
Lebih jauh, Nezar menyoroti periode 2025-2030 sebagai jembatan kritis menuju bonus demografi 2045. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia harus fokus mencari talenta terbaik. Ia menyebut teknologi baru seperti Artificial Intelligence (AI) akan menjadi penentu di abad ke-21.
“Kita harus mencari orang-orang cerdas, yang mungkin jumlahnya 1% dari total populasi kita 2,8 juta orang untuk bisa membawa satu proses yang inovatif dan kreatif,” ujarnya.
Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti, memberikan pandangan tajam mengenai sisi gelap teknologi dan kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa selain ada manusia jahat, ada pula potensi pemerintah yang jahat yang menyalahgunakan teknologi.
Ia menyoroti masifnya pencurian data pribadi. “Siapa di sini yang masuk (aplikasi), dikirimkan NIK? Itu salah satu jenis yang paling banyak dicolong soal data pribadi Misalnya nanti jadi pinjol,” ungkap Bivitri.
Menurutnya, teknologi dapat digunakan untuk pengawasan atau membungkam kritik. Oleh karena itu, Bivitri mengajak publik untuk tidak hanya pasrah.
“Pihak-pihaknya kuasa ini memang harus kita pertahankan (awasi). Dan cara pertahankannya memang kita yang harus secara aktif kita cuma survival mode melawan balik dengan ingat-ingat itu, melawan balik dua kaki, kemudian solidaritas,” serunya. “Jangan-jangan yang terang itu adalah lilin-lilin kecil itu, lilin-lilin anak muda yang merentang (melawan).”
Aktivis Sosial, Inayah Wahid, melengkapi diskusi dengan menyebut teknologi sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan, di sisi lain membuka celah kejahatan seperti deepfake (video itu mulutnya diganti semuanya), penjualan manusia, dan perbudakan.
Inayah juga menyoroti bagaimana teknologi dapat digunakan oleh kekuasaan untuk melanggengkan dominasinya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya dua jenis literasi sebagai bentuk perlawanan.
“Pertama, verifikasi, cek dulu betul atau enggak. Itu PR besar, itu effort yang besar, tapi itu penting kita lakukan,” katanya.
“Yang penting juga (adalah) literasi hukum. Banyak dari kita gak tau haknya apa, gak tau mesti bagaimana, gak tau kenapa aku tiba-tiba ditangkap. Nah ini penting kita memberikan itu kepada masyarakat,” tegas Inayah.
Inayah menutup seminar, yang dimoderatori oleh Dosen Unisma Ari Ambarwati ini, dengan pesan yang membakar semangat para aktivis PPMI. “Tugas kita, jadi nyala-nyala kecil dalam kegelapan. Menjadi suara untuk yang lain, berikan ketakutan untuk yang lain. Jadi, tolong jangan berhenti.” (dan/ian)






