Argentina memperoleh trofi ketiganya setelah mengalahkan Prancis 4-2 (3-3) melalui adu penalti, dalam final Piala Dunia 2022 di Qatar, Minggu (18/12/2022) malam. Dengan demikian jumlah negara yang memenangi Piala Dunia tak bertambah, tetap hanya delapan negara sejak pertama kali digelar pada 1930.
Brasil (5 kali), Jerman (4), Italia (4), Argentina (3), Prancis (2), Uruguay (2), Inggris (1), Spanyol (1). Hanya ada satu negara yang berstatus nyaris, karena tiga kali masuk final tanpa memenanginya sama sekali, yakni Belanda.
Pelatih Argentina Lionel Sebastián Scaloni menjadi pelatih ke-21 yang berhasil memimpin sekumpulan pemain menjadi juara dunia. Sebelumnya ada César Luis Menotti melegenda di Argentina karena membawa Daniel Passarella dan kawan-kawan menjuarai Piala Dunia 1978, yang dilanjutkan Carlos Bilardo pada 1986.
Dari Brasil, ada nama Vicente Feola yang memenangi Piala Dunia 1958, Aymoré Moreira (1962), Mário Zagallo (1970), Carlos Alberto Parreira (1994), dan Luiz Felipe Scolari (2002). Jerman memiliki Sepp Herberger (1954), Helmut Schön (1974), Franz Beckenbauer (1990), dan Joachim Löw (2014).
Zagallo sebenarnya berpeluang menjadi pelatih yang meraih dua trofi Piala Dunia bersama Brasil pada 1998. Namun, Prancis di bawah asuhan Aimé Étienne Jacquet terlampau kuat. Dua dasawarsa kemudian capaian Jacquet dilanjutkan oleh Didier Deschamps di Rusia. Di Qatar, Deschamps berpeluang mencapai apa yang gagal dilakukan Zagallo. Namun, Lionel Messi dan kawan-kawan meruntuhkan ambisi Deschamps membawa Prancis juara dua kali berturut-turut.
Dari Uruguay, Alberto Horacio Suppici menjadi pelatih pertama yang meraih Piala Dunia 1930. Dua dekade kemudian, giliran Juan López Fontana melakukannya dan membuyarkan persiapan pesta rakyat Brasil, setelah menang 2-1 atas tuan rumah di Stadion Maracana.
Tahun 1966, Alf Ramsey menjadi satu-satunya pelatih Inggris yang berhasil membumikan jargon ‘Football’s coming home’ dengan mambawa anak-anak asuhnya menaklukkan Jerman Barat 4-2 di rumah sendiri: Stadion Wembley. Sementara itu, pada 2010, Vicente del Bosque berhasil memimpin Spanyol menjuarai Piala Dunia dengan taktik tikitaka yang masyhur itu.
Menjelang Piala Dunia 2022 bergulir, jurnalis Chris Evans menerbitkan buku berjudul How to Win The World Cup – Secret and Insights from International Football’s Top Managers. Selama ini publik lebih mengenang pemain seperti Maradona, Messi, Beckenbauer, Pele, atau Mbappe. Namun, menurut Evans, tanpa seorang pelatih yang menyediakan platform atau lingkungan yang tepat, mustahil pemain-pemain berbakat itu muncul di Piala Dunia.
Maradona hanya tampil di Piala Dunia berkat Bilardo. “Jika dulu Bilardo menyerah terhadap tuntutan publik Argentina, Maradona tidak akan lolos seleksi tim nasional,” kata Evans.
Evans kemudian memilih untuk mewawancarai pelatih dan pemain dari berbeda bangsa dan era untuk menemukan ada tidaknya sebuah formula pemenangan. “Atau setidaknya kesamaan tindakan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan,” katanya dalam bagian pengantar buku.
Dari 300 halaman buku itu, ada tujuh kiat yang diungkapkan Evans. Pertama, memilih skuat yang tepat. Christian Ziege, pemain tim nasional Jerman, mengibaratkan pemilihan skuat seperti memasak. “Anda memerlukan keseimbangan yang tepat. Jika Anda hanya menaruh garam di dalam masakan, jelas keasinan dan tidak enak rasanya,” katanya.
Pelatih harus punya kewenangan penuh tanpa diganggu siapapun untuk memilih sendiri pemain yang diperlukan. Di halaman 106, Chris Evans menyebutkan, pada awal-awal penyelenggaraan Piala Dunia, pelatih timnas tak bebas memilih pemain karena ada semacam komite atau tim seleksi yang dibentuk oleh federasi sepak bola negara bersangkutan. Walter Winterbottom, pelatih Inggris, hanya bisa melatih tim yang diisi oleh pemain hasil pilihan komite yang beranggotakan sembilan orang. Hasilnya: Inggris tak bisa berbicara banyak dalam Piala Dunia 1954.
Segudang pemain hebat bukan jaminan terbentuknya tim yang kuat. Roberto Martinez, pelatih yang berhasil membawa tim nasional Belgia menjadi juara ketiga Piala Dunia 2018, mengatakan, pemilihan tim terbaik harus berdasarkan banyak aspek. Seorang pelatih membutuhkan kelompok pemain inti, sehingga tidak boleh terlalu sering mengubah komposisi timnas. Dengan komposisi timnas yang tak terlalu banyak berubah, pelatih dan pemain bisa saling menjaga kepercayaan.
Krisis yang dihadapi seorang pemain di level klub tak serta-merta mempengaruhi posisinya di tim nasional. Tim nasional berbeda dengan klub. “Mereka bisa bermain bagus dengan Anda lagi,” kata Ottmar Hitzfeld yang pernah melatih tim nasional Swiss. Dari Hitzfeld, kita akhirnya tahu, kenapa Shin Tae Yong tetap memanggil Rachmat Irianto ke tim nasional Indonesia, walau performanya dinilai Bonek jeblok di Persebaya Surabaya.
Pelatih juga harus bisa melihat siapa kapten yang tepat. Tim nasional memiliki banyak pemain hebat. Namun tidak semuanya memiliki kemampuan menjadi seirang jenderal di lapangan. Seorang kapten mampu menggerakkan pemain yang lain dan meredam ego semua pemain untuk dilebur dalam kolektivitas.
Kiat kedua, menguatkan ‘generasi emas’. Istilah ‘generasi emas’ dalam dunia sepak bola adalah sebutan untuk sebuah tim dalam satu periode generasi yang terdiri atas pemain-pemain dengan kemampuan teknis yang komplet dan cemerlang. Belgia dalam Piala Dunia 2018 diperkuat generasi emas. Tim Inggris dalam Piala Dunia 1998 sering disebut sebagai generasi emas. Begitu juga Hongaria pada Piala Dunia 1950-an dan Belanda pada Piala Dunia 1974 dan 1978.
Tidak semua tim generasi emas menyadari potensi mereka. Joachim Low membutuhkan waktu delapan tahun untuk mengubah sebuah tim Jerman berbakat yang gagal pada Piala Dunia 2006 menjadi juara Piala Dunia 2014. Tugas seorang pelatih adalah menciptakan lingkungan yang tepat bagi sebuah generasi emas tim nasional. Selanjutnya, ia hanya tinggal menanti bagaimana para pemain hebat itu memperlihatkan bakat mereka.
Kiat ketiga, mengatasi kesulitan dan belajar dari kegagalan. Didier Deschamps mengakui betapa sakitnya kegagalan menjadi juara Piala Eropa di tanah sendiri pada 2016. Mereka dikalahkan Portugal 0-1 dalam final yang digelar di Stade de France, Saint-Denis. “Tapi mungkin kalau kami saat itu jadi juara Eripa, kami tak akan menjadi juara dunia.” kata Deschamps usai mengantarkan Prancis menang 4-2 atas Kroasia dalam final Piala Dunia 2018.
Deschamps belajar banyak dari kegagalan di final Piala Eropa 2016. Begitu juga Jerman Barat yang gagal dalam final Piala Dunia 1982 dan 1986. Mereka akhirnya menjuarai Piala Dunia 1990 di Italia. “Ada delapan bangsa yang menjadi juara dunia. Masing-masing pasti punya semacam kendala mental sebelum memenangi Piala Dunia,” kata Roberto Martinez.
Ketika sebuah tim menghadapi peluang pertama untuk menjadi pemenang di final Piala Dunia, pertanyaan pertama bukanlah soal bagus tidaknya performa mereka, melainkan: ‘bisakah kita benar-benar memenanginya?’. Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah. Belanda adalah bukti betapa susahnya menjawab pertanyaan itu dalam tiga kali kesempatan.
Kiat keempat, maksimalkan pemain bintang. Chris Evans percaya setiap tim butuh pemain yang jadi semacam jimat atau senjata pamungkas yang bisa menghadirkan keajiaban dalam momentum krusial. Ini bukan sembarang pemain tentu saja. Dibutuhkan seorang pemain yang jenius dan sedikit edan yang mendapatkan kebebasan bermain. Pemain ini akan mempengaruhi performa tim secara keseluruhan.
Argentina punya Maradona. “Kalau dia bahagia, dampaknya bagus buat tim. Kalau dia bemain bagus, tim juga akan bermain bagus,” kata Nestor Clausen, pemain Argentina dalam Piala Dunia 1986.
Cristian Ronaldo adalah contoh yang lain. Begitu istimewanya dia, tak satu pun ofisial maupun pemain timnas Portugal yang menyuruhnya bergegas saat berlatih tendangan bebas.
Seorang pelatih yang baik punya kemampuan melihat pemain istimewa seperti itu. Tak semua orang bisa melihatnya, sehingga tak jarang seorang pelatih terpaksa membela mati-matian si pemain dari sorotan publik. Itu yang dilakukan pelatih Italia Enzo Bearzot terhadap Paolo Rossi dalam Piala Dunia 1982.
Rossi adalah pemain yang dibenci publik, karena terlibat pengaturan skor di Serie A. Dia dijatuhi sanksi larangan bermain selama dua tahun, dan baru bebas jelang Piala Dunia. Bearzot mempercayainya sepenuh hati pada saat publik Italia mendesak Rossi dicoret dari tim nasional.
Bearzot benar. Publik Italia salah. Rossi mencetak enam gol selama Piala Dunia, termasuk sebuah gol ke gawang Harald Schumacher yang membawa Italia menang 3-1 atas Jerman Barat di babak final.
Kiat kelima, hindari kontroversi. Konflik keras antara pelatih dan seorang pemain bisa berdampak terhadap performa tim. Urusan internal tak seharusnya tersiar ke publik. Prancis tersingkir dari Piala Dunia 2010 tanpa satu kemenangan pun, setelah sang pelatih Raymond Domenech terlibat pertengkaran dengan Nicolas Anelka. Domenech membiarkannya berlarut-larut dan menjadi drama di media massa. Ini sebuah kesalahan besar.
Kiat keenam, kuasai teknik adu tendangan penalti. Hanya ada sedikit tim yang bisa disebut sebagai jago adu tendangan penalti dalam Piala Dunia. Argentina dari tujuh kesempatan adu penalti, hanya kalah sekali yakni saat berhadapan dengan Jerman di babak perempat final Piala Dunia 2006.
Negara lain yang terhitung jago adalah Jerman. Sejak bernama Jerman Barat, timnas negara ini sudah menjalani empat kali adu penalti dan tak pernah kalah. Bandingkan dengan Prancis yang sudah lima kali melakoni adu penalti dan hanya bisa memenanginya dua kali. Brasil setali tiga uang. Mereka boleh disebut jagoan sepak bola indah. Namun untuk urusan adu penalti, mereka tak begitu hebat. Dari lima kali kesempatan, mereka kalah dua kali.
Sejumlah pelatih memilih berlatih dengan cara konvensional. Glenn Hoddle punya cara berbeda saat melatih timnas Inggris. Normalnya, jarak antara titik putih dengan gawang adalah 11 meter atau 12 yard. Namun Hoddle menginstruksikan para kiper untuk berlatih menghadapi tendangan penalti dari jarak lebih dekat (9 meter), dan para penendang mengeksekusi bola dari jarak yang lebih jauh (13 meter).
Cara Hoddle ini tak manjur. Inggris tetap saja kalah 3-4 dari Argentina dalam Babak 16 Besar Piala Dunia 1998.
Sebenarnya, alih-alih teknik, adu tendangan penalti lebih berurusan dengan psikologi pemain. Ini yang membedakan pemain Jerman Barat dengan Inggris dalam semifinal Piala Dunia 1990. Pemain Inggris masih dihantui pertanyaan: bagaimana jika saya gagal. Sementara pemain Jerman, menurut Pierre Littbarski, lebih rileks. “Bukan masalah besar. Tinggal tembak bola ke arah yang saya sukai,” katanya.
Jerman Barat memenangi adu penalti melawan Inggris di semifinal, dan menjadi juara dalam pertandingan final melawan Argentina. Hanya 1-0. Namun gol ditentukan oleh tendangan penalti Andreas Brehme.
Kiat terakhir, sekhawatir apapun sebelum pertandingan, jangan pernah panik. Mencemaskan tim lawan memang perlu, namun tidak seharusnya membuat taktik yang sudah ditentukan dan ditata mendadak harus dibongkar.
Jelang final Piala Dunia 1998, ada kabar Brasil bakal mengubah komposisi tim inti. Pelatih Prancis Aime Jacquet tak terpancing. “Dia hanya meminta kami tetap fokus terhadap persiapan kami,” kata Christian Karambeu, gelandang Prancis saat itu,.
Kekaguman berlebihan terhadap pemain lawan juga bisa mempengaruhi performa tim sendiri. Jelang pertandingan melawan Argetina dalam Piala Duni 1986, pelatih Inggris Bobby Robson terlalu mengagumi Maradona. “Saya terlalu sering mendengar dari Robson kalau Maradona seorang jenius, yang bisa melukai Anda, yang bisa mengalahkan kami sendirian,” kata Gary Stevens, bek tengah Inggris.
Inggris akhirnya kalah 0-2 dari Argentina. Dua gol dicetak Maradona: satu dengan bantuan ‘Tangan Tuhan’ dan satu lagu dengan tarian solo yang mengecoh enam pemain Inggris.
Akhirnya, buku Chris Evans ini sangat direkomendasikan bukan saja untuk para pelatih sepak bola di Indonesia, tapi juga untuk ketua umum, pengurus, dan calon ketua umum PSSI. Setidaknya untuk memahami, bahwa apa yang terjadi di lapangan hijau adalah urusan pelatih dan pemain. Federasi tak perlu ikut campur terlalu jauh dalam hal apapun, terutama teknis. Apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 pada 2023. [wir]






