Surabaya (beritajatim.com) – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kini meluas di kawasan Timur Tengah mulai mengirimkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi Jawa Timur. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur memperingatkan adanya ancaman nyata berupa “efek domino” yang menyasar sektor pangan rakyat hingga daya saing ekspor manufaktur.
Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengungkapkan bahwa posisi Jawa Timur sebagai motor ekonomi nasional menjadikannya sangat sensitif terhadap gejolak global. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz, jalur nadi 20% pasokan minyak dunia akan langsung memicu kenaikan harga energi dan premi asuransi pelayaran internasional.
Sektor yang paling rentan terdampak adalah industri pengolahan pangan berbasis impor, khususnya kedelai. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor kedelai sebesar 2,5–3 juta ton per tahun, dengan nilai transaksi dari AS melampaui US$ 1 miliar.
“Pelaku UMKM tempe dan tahu di Jatim beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak akibat naiknya biaya angkut (freight) dan pelemahan Rupiah, pilihannya hanya dua: naikkan harga atau berhenti produksi,” ujar Adik.
Efek ini diprediksi akan merembet ke industri peternakan melalui kenaikan harga bungkil kedelai (bahan baku pakan). Kondisi ini berisiko memicu inflasi pada harga ayam dan telur di tingkat konsumen dalam waktu dekat.
Dari sisi perdagangan internasional, Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional, Tommy Kaihatu, mencatat bahwa meski ekspor Jatim masih solid di angka USD 30 miliar, struktur biayanya kini terancam.
“Sekitar 10% ekspor kita menuju Timur Tengah. Masalah utamanya bukan sekadar penurunan volume, tapi margin eksportir yang tergerus akibat kenaikan biaya kontainer dan energi di saat kontrak harga sudah dikunci (fixed price),” jelas Tommy.
Menghadapi ketidakpastian ini, Kadin Jatim mendesak langkah-langkah taktis:
* Jangka Pendek (0-30 hari): Pemerintah Daerah dan importir harus segera memastikan ketersediaan buffer stock kedelai minimal untuk dua bulan ke depan guna meredam spekulasi.
* Jangka Menengah (1-6 bulan): Diversifikasi negara asal impor kedelai untuk mengurangi ketergantungan pada AS, serta pendampingan manajemen risiko kurs bagi eksportir UMKM.
Meskipun fundamental ekonomi Jawa Timur dinilai cukup resilien, Kadin menekankan bahwa respons cepat dan koordinasi lintas sektor adalah kunci agar “badai” geopolitik ini tidak melumpuhkan momentum pertumbuhan ekonomi daerah di tahun 2026.[rea]






