Malang (beritajatim.com) – Arema FC mengalami penolakan sebanyak 4 kali saat memilih kandang atau homebase untuk putaran kedua Liga 1 2022/2023. Penolakan ini imbas Tragedi Kanjuruhan yang membuat 135 jiwa meninggal dunia dan 600 lebih terluka.
Penolakan ini dilakukan sebagai langkah solidaritas bagi korban, keluarga korban, dan Aremania. Publik menilai Arema FC tidak memiliki empati atas Tragedi Kanjuruhan yang telah merengut ratusan nyawa suporternya. Alih-alih memberikan bantuan hukum, Arema FC justru fokus berkompetisi.
Penolakan pertama kali terjadi di Stadion Moch Soebroto, Magelang. Suporter PPSM Magelang tidak sudi stadion mereka dipakai Evan Dimas Cs. Kedua muncul penolakan atas rencana Arema FC yang akan berkandang di salah satu stadion di Bali.
Ketiga penolakan lantang dilakukan oleh tim Liga 3 PS Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PS HW UMY) saat Arema FC akan bermarkas di Stadion Sultan Agung, Bantul. Pemkab Bantul juga sepakat tidak mengizinkan stadion mereka dipakai Arema FC.
Keempat adalah rencana Arema FC memakai Stadion Jatidiri, Semarang. Penolakan keras dilakukan oleh Panser Biru. Bahkan mereka tidak bertanggungjawab atas keamanan Arema FC jika tetap nekat menjadikan Stadion Jatidir sebagai kandang putaran kedua.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
“Untuk itu no komen dulu. Nanti akan diinformasikan lebih lanjut,” kata manajer Arema FC, Wiebie Dwi Andriyas, Jumat (13/1/2023).
Ketua Panser Biru, Galih Eko Putranto atau yang akrab disapa Galih Ndog mengatakan, bahwa penolakan keras yang mereka lakukan semata-mata demi solidaritas untuk korban Tragedi Kanjuruhan, pada 1 Oktober 2022 lalu. Dimana dalam tragedi itu sebanyak 135 orang meninggal dunia dan 600 lebih mengalami luka-luka.
“Ini bentuk solidaritas, intinya saya menolak Arema FC ber-homebase di Semarang. Monggo mereka berhombase dimana terserah. Pokoknya kalau di Semarang kami menolak keras,” tandas Galih. [luc/but]






