Di sebuah kedai di kawasan Semolowaru, Surabaya, Saiful Antoni menggerutu malam itu. Persebaya yang berhasil membenamkan Persijap Jepara 4-0 di Gelora Bung Tomo pada putaran pertama, ganti dihajar 1-3 di Jepara, Jawa Tengah.
Di hadapan 8.193 penonton yang hadir di Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2/2026), gawang Persebaya dibombardir Iker Guarrotxena pada menit 32 dan 90+11 dan Alexis Gómez pada menit 71. Satu-satunya gol Persebaya dicetak ‘Si Anak Baik’ Bruno Moreira pada menit 90+2 melalui titik penalti.
Dengan hasil ini Persebaya mengalami kekalahan dua kali beruntun. Sebelumnya di Gelora Bung Tomo, Persebaya dihajar Bhayangkara Presisi Lampung FC 1-2. Hasil terakhir di Jepara menempatkan Persebaya pada peringkat kelima klasemen sementara hingga pekan 22.
“Taktik Persebaya sudah terbaca lawan. Main long ball terus dan tidak pernah bisa memanfaatkan set piece,” kata Saiful yang akrab disapa Capo Ipul ini.
Saiful mungkin benar. Taktik Persebaya sudah terbaca atau setidaknya bisa diprediksi lawan. Tapi bukan itu masalah sebenarnya.
Dalam sepak bola, setiap pelatih memiliki filosofi bermain dan meyakini sebuah taktik dalam jangka panjang. Hampir tidak pernah ada pelatih yang mengubah taktik hanya demi membuat lawan bingung dan salah terka.
Perubahan taktik dan filosofi bermain di tengah jadwal kompetisi yang ketat justru kontraproduktif dan berpotensi membingungkan pemain sendiri. Apalagi Bernardo Tavares baru melatih Persebaya di pertengahan musim ini. Selain meracik taktik, dia harus mengevaluasi kualitas pemain yang tersedia dan bisa menjalankan instruksinya.
Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool, mengakui tim asuhannya mudah ditebak. “Kami selalu menang.”
Terdengar pongah. Namun itu sesungguhnya esensi pertandingan sepak bola. Tidak peduli taktik apa yang hendak digunakan, hasilnya harus bisa diprediksi: menang.
Enam pertandingan di bawah Bernardo Tavares, Persebaya justru sukar diprediksi. Tiga kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan beruntun menunjukkan tim ini belum sepenuhnya stabil.
Enam pertandingan Persebaya sudah jelas menunjukkan bagaimana Tavares menyukai long pass atau operan panjang ke depan langsung ke zona pertahanan lawan. Dia menginginkan sepak bola simpel dan efisien. Tidak perlu terlalu terlalu dominan, asalkan bisa membaca momentum untuk melakukan serangan balik cepat dan mengonversinya menjadi gol.
Filosofi Tavares terbaca dari rata-rata penguasaan bola Persebaya dalam enam pertandingan yang hanya 40 persen. Penguasaan bola ini lebih sedikit dibandingkan rata-rata empat pertandingan saat Persebaya masih ditangani pelatih sementara (54,75 persen).
Tidak ada yang keliru dengan taktik memainkan umpan panjang dan mengandalkan serangan balik. Tidak semua tim bisa berlama-lama dengan bola, mendominasi pertandingan dengan memainkan operan dari kaki ke kaki yang disebut ‘pass and move‘ secara benar.
Jonathan Wilson dalam buku Inverting The Pyramid: The History of Soccer Tactics memaparkan penelitian yang dilakukan Charles Reep dan Bernard Benjamin, Kepala Royal Statistical Society, terhadap 578 pertandingan antara 1953-1967. Sebagian besar adalah pertandingan Liga Inggris dan tiga pertandingan Piala Dunia.
Mereka menemukan bahwa hanya lima persen dari empat atau lebih operan yang diterima dan hanya satu persen dari enam operan atau lebih. Menurut keduanya, ‘Long chains of passes require repeated accuracy, very difficult to sustain as defenders move in to close down space – man-mark the targets as the sequence stretches out‘.
Susah untuk mempertahankan pamjangnya rantai operan karena intensitas pemain bertahan lawan yang menutup ruang kosong. Sementara itu akurasi operan adalah syarat untuk penguasaan bola. Reep menyimpulkan untuk tim dengan level permainan lebih rendah atau secara individu kurang mumpuni, possession football bisa kontraproduktif.
Namun operan jarak jauh bnkannya tanpa kelemahan dan risiko. ‘Long-ball football is too risky. Most of the time what pays off is educated skills. If you’ve got the ball, keep it. The other side can’t score…’, demikian ditulis David Winner dalam bukunya yang menelaah filosofi sepak bola Belanda, Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Soccer.
Orang-orang Belanda percaya, skill terlatih untuk menguasai bola selama mungkinlah yang memperbesar peluang untuk menang dan menutup kemungkinan lawan mencetak gol. Keyakinan yang diterjemahkan dalam Total Football oleh Rinus Michels, Johan Cruyff, dan disempurnakan Pep Guardiola.
Namun memainkan bola-bola panjang ke depan sebenarnya lebih susah dan membutuhkan akurasi lebih tinggi. Dalam hal ini sebuah tim harus memiliki pemain-pemain sayap yang bisa berlari cepat dan pemain yang tak hanya bisa memberikan operan-operan akurat dari jarak jauh, namun juga visi dalam membaca permainan.
Contoh sempurna adalah Inter Milan di bawah pelatih Helenio Herrera. Wilson menyebut: Luis Suarez ‘memiliki visi yang hebat dan kemampuan untuk memberikan umpan panjang yang sangat akurat. Itulah cara khas Inter memulai kembali permainan setelah merebut bola. Mereka akan mengoper bola ke Jair, yang akan berlari ke ruang kosong, atau membiarkannya untuk Suárez, yang akan menendangnya dari jauh melewati lini tengah untuk Mazzola atau penyerang tengah…’
Di sini problem besar Persebaya di bawah Bernardo Tavares. Persebaya tak punya pemain dengan visi dan kemampuan mengoper jarak jauh seperti Luis Suarez. Selain itu akurasi operan panjang Persebaya sangat rendah, tak sampai 80 persen.
Rata-rata akurasi operan Persebaya dalam enam pertandingan di bawah Tavares hanya 71 persen. Persentase akurasi operan terendah saat melawan Malut United (64 persen) dan tertinggi 76 persen saat melawan Dewa Unjited dan PSIM Jogjakarta. Bola-bola panjang yang dioperkan dari zona pertahanan Persebaya ke zona pertahanan lawan seringkali meleset atau diintersep pemain lawan karena terlalu lemah.
Rata-rata akurasi ini jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata akurasi empat pertandingan Persebaya di bawah pelatih ad interim (81,25 persen). Saat menggunduli Persijap 4-0 di Gelora Bung Tomo, Persebaya yang waktu itu dilatih Uston Nawawi tak hanya mendominasi permainan (52 persen), namun memainkan sepak bola menyerang nyaris sempurna dengan akurasi operan 85 persen.
Sebaliknya saat digulung balik Persijap di Jepara, akurasi operan Persebaya hanya 69 persen. Beruntung Persijap juga sama buruknya (71 persen).
Melawan PSM Makassar di Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026), operan-operan panjang agaknya masih menjadi andalan Tavares. Tentu saja yang harus dipastikan adalah: tak ada lagi ‘long pass tidak pas’. [wir]






