Jombang (beritajatim.com) – Sabtu (14/3/2026), Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang, menjadi saksi sebuah momen yang menggugah hati. Ribuan tukang becak dari berbagai penjuru desa, berbaris panjang dengan wajah penuh harap, siap menerima zakat dan sedekah dari keluarga Bupati Jombang Warsubi.
Sebuah pemberian yang tidak hanya berupa beras lima kilogram dan uang tunai Rp100 ribu, tetapi juga sebuah bentuk kepedulian di tengah kesulitan hidup yang semakin mendera.
Antrean yang panjang itu tidak hanya terbatas pada jalan desa setempat. Bahkan, antrean para tukang becak ini sampai Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang atau sekitar 4 hingga 5 kilometer dari rumah Bupati Warsubi di Mojokrapak menjadi titik pembagian zakat.
Mereka datang dengan semangat, meskipun syarat untuk menerima zakat sangat mudah—hanya dengan menunjukkan fotokopi KTP.
Di balik wajah-wajah yang penuh syukur, ada kisah-kisah kehidupan yang menggugah hati. Gito (56), seorang tukang becak asal Kecamatan Megaluh, dan Mukanan (61) warga Denanyar, menjadi contoh nyata ketabahan.
Keduanya rela antre sejak Jumat pagi, bahkan memarkirkan becaknya di depan rumah Bupati Warsubi dan kembali pulang. Mereka ingin berada di antrean paling depan, memastikan bahwa mereka mendapatkan bantuan tersebut.
“Makanya sekarang kami berada di antrean paling depan. Syarat untuk mendapatkan zakat dan sedekah hanya menyerahkan fotokopi KTP. Itu saja,” kata Gito, yang diamini Mukanan, sambil menunggu giliran.
Bagi Gito dan Mukanan, zakat dan sedekah ini adalah berkah yang sangat berarti. Sebagai penarik becak, mereka menghadapi kenyataan bahwa profesi mereka kini semakin sulit. Banyak orang lebih memilih menggunakan ojek online (ojol) ketimbang naik becak.
Pendapatan mereka pun seringkali tidak menentu, berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp30 ribu dalam sehari, bahkan ada hari-hari di mana mereka tidak mendapatkan penumpang sama sekali.

Mukanan, yang biasa mangkal di sekitar Embong Miring Jombang, juga merasakan hal serupa. Meski lokasi tempatnya mangkal sangat strategis, dekat dengan Pasar Citra Niaga dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif, jumlah penumpang yang naik becak semakin sedikit.
“Sepi sekali. Makanya, kita sangat senang mendapatkan zakat dan sedekah dari keluarga Bupati Jombang ini,” ujarnya dengan suara penuh haru.
Antrean semakin panjang seiring berjalannya waktu. Namun, Gito dan Mukanan yang sudah antre lebih awal, mendapatkan giliran lebih dulu. Penyerahan zakat ini dilakukan secara simbolis oleh putra-putri keluarga Bupati Warsubi, Novadonna dan Octadella, yang hadir bersama pasangan mereka.
Bupati Warsubi, yang sedang berada di luar kota, dan adiknya H Agung Wicaksono yang sedang melaksanakan ibadah umrah, tak bisa hadir langsung dalam acara tersebut.
Wahid, panitia pembagian zakat, menjelaskan bahwa total ada 2000 tukang becak yang menerima bantuan pada hari itu. Keesokan harinya, Minggu (15/3/2026), giliran pengemudi ojek dan sopir angkutan umum, masing-masing sebanyak 750 orang dan 150 orang. Ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun oleh keluarga Bupati Warsubi.
“Ini merupakan agenda rutin setiap tahun. Saat ini Abah Bupati sedang ada tugas di Jakarta, jadi tidak bisa menemani kita semua. Sedangkan Abah Agung umrah,” ujar Wahid, sambil menambahkan bahwa setiap tukang becak mendapatkan 5 kg beras dan uang tunai Rp100 ribu.
Bagi ribuan tukang becak yang menerima zakat dan sedekah itu, momen tersebut bukan sekadar pembagian beras dan uang. Itu adalah bukti nyata bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan hidup yang penuh tantangan. [suf]






