Pasuruan (beritajatim.com) – Warga Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, mulai kembali ke rumah masing-masing setelah lebih dari sebulan mengungsi akibat pergerakan tanah. Mereka merasa tidak ada kepastian dari pemerintah mengenai kelanjutan pengungsian.
“Warga ingin pulang karena tidak ada keputusan yang jelas. Jadi warga bingung. Kalau hujan lebat, baru mereka kembali ke pengungsian,” ujar Darmanto, Ketua RT setempat, Kamis (13/3/2025).
Darmanto sendiri telah mengungsi selama 25 hari. Siang hari ia kembali ke rumah, namun malam hari memilih tidur di pengungsian. “Saya tidur di pengungsian terus, subuh baru pulang. Semua warga begitu karena pagi mereka harus bekerja. Tapi dua hari ini, tidak ada lagi yang tidur di pengungsian,” ungkapnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan dari Badan Geologi Kementerian ESDM terkait kelayakan hunian di kawasan terdampak. Namun, proses relokasi tidak bisa dilakukan secara instan.
“Dari Kementerian ESDM menyatakan bahwa rekomendasinya sama dengan BPBD Provinsi, yakni relokasi. Untuk relokasi, tidak semudah itu. Banyak yang harus dipersiapkan,” kata Sugeng.
Sugeng mengimbau warga untuk tetap berada di pengungsian demi keselamatan. “Saran kami, sebaiknya tetap di pengungsian. Kalau hanya melihat peliharaan atau barang-barangnya, tidak masalah, yang penting tetap waspada,” kata Sugeng.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan masih bertanggung jawab atas kebutuhan pengungsi. “Pemerintah Kabupaten Pasuruan sudah menyiapkan semuanya, termasuk kebutuhan makan, dan sampai sekarang masih ada petugas yang berjaga di pengungsian,” pungkasnya.
Bencana tanah bergerak di Dusun Sempu terjadi sejak 28 Januari 2025, mengakibatkan 58 rumah terdampak, 17 di antaranya rusak berat. (ada/but)






