Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, Dosen Ilmu Komunikasi Politik Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim) menyodorkan analisis pengunduran diri Mahfud MD dari posisi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan dalam perspektif budaya Madura.
Mahfud MD adalah satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Maju yang berdarah Madura. Ia lahir di Kabupaten Sampang pada 13 Mei 1957.
Mahfud MD mengundurkan diri dari kabinet dengan alasan menghindari konflik kepentingan dan intervensi politik.
Dia berharap pengunduran diri ini bisa menjadi jaminan moral dan intelektual agar Pilpres berjalan adil dan jujur.
“Bila dianalogikan secara sederhana dalam perspektif kultural Madura, rasa kehormatan dan standar etika Mahfud mungkin sedang tercabik atau terkoyak oleh kesewenangan kekuasaan,” kata Iqbal, Jumat (2/2/2024).
Dengan sisa dua pekan masa kampanye, iqbal memaknai momentum undur diri ini sebagai langkah Mahfud ‘melakukan carok’ terhadap kabinet Jokowi sebagai wujud menjaga integritas kesucian penjaga demokrasi. Dalam kultur Madura, carok adalah pertarungan untuk memulihkan kehormatab yang diinjak orang lain.
Mahfud sendiri, menurut Iqbal, memberikan pesan simbolik dengan memilih depan Pura di Danau Tirta Gangga, Desa Swastika Bhuana, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah. untuk mengumumkan pengunduran dirinya.
“Ini bisa dimaknai bahwa Mahfud berpesan tentang pentingnya menjaga “air suci” politik demokrasi demi menjaga “kesuburan dan kemakmuran bangsa,” kata Iqbal.
Ini juga menandakan kerisauan Mahfud terhadap kontestasi pilpres saat ini yang sudah sangat merusak sendi-sendi kesucian politik dan demokrasi, akibat kesewenangan kekuasaan.
“Mungkin di mata Mahfud demokrasi pemilu mengalami kemunduran dan bahkan kematian setelah kekuasaan condong memihak dan berlaku tidak adil dalam menjaga prinsip jujur dan adilnya kontestasi pilpres,” kata Iqbal.
“Maka, berdiri di tempat suci itu bisa menjadi momentum yang dianggap paling tepat untuk mengumumkan kehormatan dirinya sebagai Menko Polhukam sudah tidak dihargai oleh kekuasaan,” kata Iqbal. [wir/aje]






