Lumajang (beritajatim.com) – Senyum dan tawa anak-anak di lokasi pengungsian Desa Supiturang, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur terdengar riuh sejak pagi.
Raut wajah mungil mereka mulai berangsur pulih pasca teror erupsi awan panas Gunung Semeru meluluh-lantakkan tempat tinggal mereka pada, Rabu (19/11/2025).
Akibat bencana ini, sebanyak 42 anak-anak hingga balita masih ditempatkan di posko pengungsian Sekolah Dasar Negeri (SDN) Supiturang 4.
Puluhan anak-anak korban bencana ini mulai mendapatkan trauma healing dari tim Kepolisian Resort (Polres) Lumajang pada, Jumat (21/11/2025).
Didampingi polwan-polwan cantik, anak-anak di pos pengungsian diajak untuk bernyanyi hingga bermain.
Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan trauma ketakutan atas bencana erupsi pada korban.
Ananda (8), salah satu anak di pengungsian tampak asik menikmati waktu bermainnya bersama para polwan.
Keceriaannya itu bertambah saat para polisi mulai membagikan bingkisan jajan untuk masing-masing anak.
Momen kebersamaan ini membuat Ananda bersama puluhan anak lain merasa senang meski sudah tertahan di pengungsian selama 3 hari.
“Sudah tiga hari (mengungsi), senang bisa main-main dan nyanyi bareng mbak-mbak polisi,” ucap Ananda saat dijumpai asik mengikuti treatment trauma healing, Jumat (21/11/2025).
Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar menjelaskan, proses penyembuhan luka batin akibat mengalami dampak bencana pada anak-anak dilakukan dengan mengajak mereka untuk bermain bersama.
Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan kecerian anak-anak dan mereka lupa terhadap situasi yang pernah dialami akibat bencana Gunung Semeru.
“Situasi di pengungsian sejak pagi kita melaksanakan kegiatan bermain bersama agar berimpact pada traumatik healing kepada anak-anak. InsyaAllah kami berharap supaya anak-anak kita kembali ceria dan melupakan traumanya,” ungkap Alex. [has/aje]






