Surabaya (beritajatim.com) – Almaz Fried Chicken, merek ayam goreng dengan cita rasa khas Arab Saudi, resmi membuka cabang ke-112 di Margorejo, Surabaya. Pembukaan ini bertepatan dengan usia satu tahun Almaz, menandai pertumbuhan pesat dan daya tarik merek ini di tengah masyarakat yang mendambakan variasi rasa baru dan unik.
Rendy Saputra, agregator resmi Almaz Fried Chicken, menyebutkan jika cabang Margorejo Indah ini memiliki fasilitas yang lengkap mulai dari resto yang nyaman, playground untuk anak-anak, ruang meeting untuk kajian hingga mushalla.
Rendy juga menyoroti dua jalur kemitraan yang ditawarkan: Mitra Mandiri dan Mitra Patungan. Dan cabang Margorejo Indahnya ini merupakan mitra patungan yang terdiri dari 12 investor.
“Tanggung jawab seorang investor adalah menyediakan tempat, melakukan renovasi eksterior, dan membayarkan semua kebutuhan persiapan cabang,” jelasnya, sembari memperkenalkan salah satu Mitra Patungan.
Bram Dwi Raditya, Co-Founder Almaz Fried Chicken, menekankan perbedaan utama Almaz dengan brand ayam goreng besar lainnya seperti KFC atau McD.
“Di sini ada nasi kebuli, jadi ada menu pilihan selain nasi putih,” ujarnya. Ini menjadikan Almaz sebagai salah satu restoran fried chicken pertama yang menawarkan kombinasi unik nasi kebuli dengan ayam goreng, sebuah inovasi yang terbukti menjadi favorit pelanggan.
Lebih dari sekadar bisnis kuliner, Almaz Fried Chicken membawa misi sosial yang kuat. Bram Dwi Raditya mengungkapkan, “5% dari penjualan kita konversikan dalam bentuk nasi box atau dalam bentuk sembako beras,” bebernya.
Komitmen ini akan konsisten setiap bulannya. Selain itu, 5% dari keuntungan disumbangkan untuk warga Palestina.
“Harapannya setiap ada Almaz yang berdiri di radius 2 sampai 3 km, tidak ada orang yang kesulitan untuk mendapatkan makan,” kata Bram, menggaris-bawahi semangat berbagi dan kebermanfaatan lingkungan.
Investasi untuk satu outlet Almaz Fried Chicken diperkirakan sekitar Rp 2 miliar, namun target ekspansi untuk tahun ini sekitar 6 hingga 8 outlet. Mengenai pemilihan lokasi yang kerap berdekatan dengan brand besar, Bram menjelaskan bahwa ini bukan karena boikot, melainkan keyakinan bahwa lokasi yang sudah terbukti sukses bagi kompetitor juga akan menarik target pasar Almaz.
“Market lokasi yang mereka pilih itu sudah teruji,” tegasnya.
Almaz juga menonjolkan ciri khas bumbu rempah Timur Tengah yang telah disesuaikan dengan lidah Indonesia, menawarkan varian original bagi mereka yang kurang cocok dengan rempah.
Bram Dwi Raditya, selaku Operating Officer atau Co-Founder, menjamin kualitas ayam yang konsisten melalui prosedur ketat, seperti pengecekan setiap dua jam sekali. Mereka juga berkomitmen pada kecepatan layanan, dengan target “chicken in 60 seconds” untuk ayam, nasi, dan minuman setelah pesanan dicetak.
Dengan perpaduan cita rasa unik, model bisnis inovatif, dan komitmen sosial yang kuat, Almaz Fried Chicken siap menjadi pemain penting dalam industri kuliner dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.[rea]







