Bondowoso (beritajatim.com) — Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus berupaya mencari solusi terbaik atas persoalan alih fungsi lahan di kawasan lereng Ijen.
Khususnya dampak dari peralihan tanaman tegakan menjadi tanaman hortikultura seperti kentang dan kubis yang dinilai berkontribusi terhadap kerentanan ekologi.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid usai memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Sinergitas Forkopimda di Pringgitan Tengah Pendopo RBA Ki Ronggo, Senin (4/8/2025).
Rakor tersebut turut dihadiri oleh Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, Kejaksaan Negeri, Polres Bondowoso, Kodim 0822, BPN, PTPN, dan Perhutani.
“Kita cari solusi yang terbaik. Tadi misalkan terkait penanaman hortikultura, itu kita kaji dari aspek hukumnya, dan juga bagaimana bisa tetap meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Itu tadi yang kami bahas,” ungkapnya pada BeritaJatim.com.
Ra Hamid—sapaan akrabnya—juga menjawab dugaan hilangnya 40 persen tanaman tegakan di areal ratusan hektar di wilayah Kecamatan Sempol/Ijen.
Ia menegaskan, solusi yang dicari tidak hanya berorientasi pada produktivitas lahan, tapi juga memperhatikan aspek konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
“Kita juga pikirkan aspek ekologinya, bagaimana fungsi hutan sebagai kawasan konservasi tetap berjalan. Tapi di sisi lain, kesejahteraan masyarakat juga harus tetap tersalurkan dengan baik,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Bondowoso akan menggelar pertemuan teknis terbatas yang melibatkan Forkopimda, tokoh masyarakat Ijen, dan pemangku kebijakan terkait.
Pertemuan tersebut dijadwalkan akan dilaksanakan dalam waktu dekat. “Mungkin pekan depan (pertemuan teknis selanjutnya),” kata dia.
Namun pada prinsipnya, lanjut Bupati, Pemkab Bondowoso ingin mencarikan jalan tengah atas persoalan tersebut, sehingga semua sisi baik ekologi dan ekonomi juga terakomodir dengan baik.
“Intinya, bagaimana lingkungan tetap jalan dan masyarakat tetap difasilitasi kesejahteraannya,” pungkasnya. (awi/but)






