Surabaya (beritajatim.com) – Seniman Kota Surabaya menggelar rangkaian aksi satire di Taman Apsari, Jalan Gubernur Suryo untuk mengenang insiden kepergian siswa kelas IV (4) SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup karena orang tuanya tidak mampu membelikan pena dan buku seharga Rp10 ribu.
Para seniman kota arek itu mengenakan seragam sekolah SD merah putih. Mereka membawa tandu troli mobil ambulans, sambil mengibarkan bendera berwarna hitam putih; bertuliskan merah putih.
Tandu troli mobil ambulans itu ditumpuki ratusan buku tulis dan pena oleh mereka. Buku-buku serta pena itu dibagi-bagikan kepada masyarakat, siswa-siswi SDN Kaliasin I, sekitar Taman Apsari, yang baru pulang sekolah dijemput orang tuanya.
Sambil membagikan buku dan pena, seniman tua itu menyemangati siswa-siswi SD agar tetap semangat belajar dan menimba ilmu, dan kepada orang tuanya; mereka turut berpesan menyayangi anaknya, teman-temannya, tetangganya, dan atau anak lain.
Kusnan, salah seorang seniman Kota Surabaya di lokasi mengatakan bahwa meninggalnya anak 10 tahun, siswa SD, di Ngada adalah ironi moral bagi bagi bangsa. Kusnan dengan lantang meneriakkan satu kata, ia menggugat.
“Betapa kayanya negeri ini, tapi kenyataannya ada seorang siswa bunuh diri gara-gara tidak mampu untuk membeli sebuah buku. Membuat hati saya menangis,” kata Kusnan di Taman Apsari, Selasa (10/2/2026).
Kusnan menyatakan bahwa negara yang dipimpin pemerintah telah gagal, dunia pendidikan tercoreng, karena luput mengawasi dan mencukupi kebutuhan generasi penerus bangsanya.
“Pesan saya kepada pemerintah, jangan pernah ada lagi anak bangsa yang mati sia-sia gara-gara (ingin menempuh) pendidikan,” ungkapnya.
“Untuk masyarakat juga, ayo mulai sekarang perhatikan tonggomu (tetanggamu) rek. Tetangga adalah saudara kita terdekat,” pesan Kusnan kepada masyarakat.
Kepada RT-RW perangkat kelurahan, kecamatan, hingga pemerintah daerah, Kusnan menyoroti agar kejadian kasus ini tidak kembali terulang. Baik itu di kotanya sendiri Surabaya, maupun dalam cakupan lebih luas di Jawa Timur dan Indonesia ke depan.
“Bagi para penguasa, kalian zolim apabila membiarkan satu lagi yang mati sia-sia, anak bangsa kita,” tegasnya.
Kusnan pun mengaku, bantuan ratusan buku dan pena yang diberikan kepada siswa-siswi dan masyarakat merupakan hasil dari solidaritas galang dana warga dan para pegiat seni di Surabaya. Ia menyampaikan ungkapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada mereka.
“Saya terima kasih untuk kawan-kawan yang membantu,” tutupnya. (rma/ted)






