Suabaya (beritajatim.com) – Sekretaris Asosiasi Futsal Provinsi (AFP) Jawa Timur, Azhar Kahfi, mengutuk keras aksi kekerasan yang terjadi dalam pertandingan futsal tingkat sekolah dasar.
Seorang siswa kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI) berinisial BAIM (11) mengalami cedera parah pada tulang ekornya setelah dibanting oleh pelatih tim lawan dalam laga semi final futsal antar SD yang digelar di Surabaya.
Insiden ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk federasi futsal. “Saya pribadi dan tentunya federasi futsal mengutuk keras tindakan tersebut,” tegas Azhar Kahfi, Senin (28/4/2025).
Kahfi juga menyoroti bahwa penyelenggaraan event futsal tersebut tidak berkoordinasi dengan federasi resmi, baik Asosiasi Futsal Kota Surabaya maupun AFP Jawa Timur. Menurutnya, kelalaian dalam koordinasi ini berkontribusi besar terhadap terjadinya insiden yang memprihatinkan tersebut.
“Even itu tidak ada koordinasi sama sekali dengan federasi. Padahal, dalam setiap event olahraga, wajib melibatkan unsur kepolisian, wasit resmi, dan pengawas pertandingan yang ditunjuk oleh federasi,” jelasnya.
Lebih mengejutkan lagi, pelatih yang melakukan kekerasan diketahui tidak memiliki lisensi kepelatihan resmi. Hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan dalam penyelenggaraan event olahraga di tingkat pelajar, yang seharusnya memperhatikan aspek keselamatan dan profesionalisme dalam setiap pertandingan.
“Pelatih yang melakukan tindakan tidak terpuji tersebut ternyata tidak memiliki lisensi kepelatihan,” tambah Kahfi dengan nada kecewa.
Azhar Kahfi menilai bahwa penyelenggara event telah lalai dalam memahami regulasi yang ada. Ia juga menegaskan bahwa stakeholder di bidang olahraga, termasuk pemerintah daerah, harus lebih tegas dalam mengimbau kewajiban melibatkan federasi olahraga pada setiap event yang digelar, untuk memastikan standar keamanan dan profesionalisme terjaga.
“Ini jadi catatan penting. Penyelenggara dan stakeholder harus mawas diri. Sering kali dianggap paham, padahal faktanya tidak memahami regulasi penyelenggaraan event olahraga,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kahfi menjelaskan bahwa federasi olahraga dapat bergerak lebih maksimal apabila ada komunikasi resmi dari penyelenggara event. Tanpa koordinasi yang jelas, pengawasan terhadap peserta, terutama anak-anak, menjadi sangat lemah dan tidak terjamin.
“Federasi itu sifatnya proaktif, tetapi hanya bisa bertugas maksimal kalau ada komunikasi dari penyelenggara. Ini harus dipahami semua pihak,” imbuhnya.
Kahfi mendesak agar kasus kekerasan ini segera diusut tuntas oleh aparat berwenang. Ia juga mengimbau agar ke depan, seluruh event olahraga, sekecil apapun skalanya, wajib melibatkan federasi untuk menjaga keamanan, profesionalisme, dan kenyamanan peserta.
“Kejadian tragis ini menjadi tamparan keras bagi dunia olahraga usia dini di Surabaya. Semoga, evaluasi menyeluruh dapat dilakukan agar kasus serupa tidak terulang, serta memberikan jaminan keselamatan kepada generasi muda yang ingin berprestasi di bidang olahraga,” tandasnya. [asg/suf]






