Hong Kong (beritajatim.com) – Museum M+ di Hong Kong ternyata menyimpan banyak karya seniman dan desainer asal Indonesia. Koleksi tersebut hadir dalam berbagai bidang, mulai dari seni visual, karya gambar bergerak, hingga desain dan arsitektur.
Shirley Surya, Curator Design and Architecture M+, menyebut bahwa Indonesia memiliki kontribusi besar dalam koleksi museum tersebut.
“M+ memiliki lebih banyak karya dari Indonesia dalam bidang Seni Visual dan Karya Gambar Bergerak dibandingkan dengan bidang Desain dan Arsitektur. Anda dapat menelusuri karya-karya ini di situs M+ Collection dengan menggunakan kata kunci ‘Indonesia’,” jelasnya.
Beberapa karya yang dipilih M+ antara lain milik ARKOM Indonesia, sebuah praktik arsitektur yang dikenal karena fokusnya pada pembangunan rumah bagi masyarakat miskin kota serta rekonstruksi pascabencana.
“M+ berupaya menampilkan karya yang menyoroti kondisi sosial, ekonomi, dan perkotaan khas Asia. Praktik ARKOM secara khusus relevan bagi komunitas rawan bencana di Indonesia, seperti di Palu atau Yogyakarta,” tambah Shirley.
Selain itu, M+ juga mengoleksi rancangan arsitek Amerika Paul Rudolph, yang pernah mengerjakan proyek di Indonesia.
Salah satu karyanya, Wisma Dharmala Sakti (kini Intiland Tower), dianggap sebagai pencakar langit pertama di Jakarta yang dirancang dengan fitur iklim pasif serta pendekatan arsitektur regional tropis pada 1980-an.
Nama lain yang masuk koleksi adalah Cahyono Abdi, dengan poster yang merefleksikan hibriditas desain postmodern 1980-an.

Karya Abdi memadukan budaya pop Amerika–Britania dengan elemen tradisional Jawa. “Kadang, pengoleksian tidak selalu sistematis, tetapi juga terkait dengan buku yang kami baca, keluarga desainer yang menyumbangkan karya, hingga ketersediaan material asli. Dalam kasus Abdi, semua faktor tersebut terpenuhi,” jelas Shirley.
Selain praktisi berbasis Indonesia, M+ juga menyimpan karya arsitek Hong Kong yang pernah merancang bangunan penting di Jakarta, seperti Mandarin Oriental dan Bali Hyatt pada 1970-an. Koleksi ini mencerminkan hubungan erat Hong Kong dan Indonesia dalam pengembangan real estat serta tipologi bangunan baru.
Di bidang seni visual, M+ turut mengoleksi karya seniman Indonesia terkemuka seperti Heri Dono, Eko Nugroho, dan A.D. Pirous. Sebagian pernah ditampilkan dalam pameran In Search of Southeast Asia through the M+ Collections pada 2018.
Tidak berhenti di sana, M+ juga bekerja sama dengan seniman kolektif Tromarama, yang pada 2023 dipercaya membuat karya untuk M+ Façade bertajuk Growing Pillars. Koleksi lain yang dimiliki adalah karya Jompet Kuswidananto serta arsitek mendiang Eko Prawoto.

Dengan ragam koleksi ini, museum M+ memperlihatkan bagaimana seniman dan arsitek Indonesia berkontribusi dalam peta seni dan desain internasional, sekaligus menghadirkan perspektif unik yang berakar dari kondisi sosial dan budaya Indonesia. (ted)






