Gol itu menumbuhkan harapan. Sebenarnya. Namun sebagaimana halnya dalam hidup, harapan bisa dimatikan begitu saja oleh absurditas dalam sebuah pertandingan sepak bola.
Dan pada sebuah malam yang basah di Gelora Bung Tomo Surabaya, Minggu (11/5/2025), absurditas itu bernama VAR. Video Assistant Referee.
Setelah Semen Padang unggul lebih dulu melalui kaki Cornelius Stewart pada menit 35, Bruno Moreira menyamakan kedudukan pada menit 64. Tensi pertandingan meningkat, dan Persebaya tak ingin melepas kesempatan untuk menang setelah hanya menuai empat hasil seri dalam lima pertandingan terakhir.
Menit 84, Kasim Botan yang berlari menusuk kotak penalti Semen Padang mengoperkan bola ke Francisco Rivera yang meneruskannya ke Dejan Tumbas. Pemain asal Serbia itu membalikkan badan dan melepaskan tembakan ke gawang Arthur Augusto.
Ini gol perdana Tumbas selama memperkuat Persebaya musim ini. Harapan 7.097 orang penonton yang ingin menyaksikan Persebaya menang dan menyodok ke peringkat kedua klasemen mekar kembali.
Wasit Adham Mohammad Tumah Makhadmeh dari Yordania sudah menunjuk titik putih tengah lapangan, mengesahkan gol itu. Namun dari ruang kendali VAR mengisyaratkan gol tak absah karena Tumbas terjebak offside.
Kontroversi mengapung, terutama karena tayangan ulang VAR di televisi tidak cukup meyakinkan. Penonton hanya disajikan tarikan garis merah dari sudut yang tak jelas untuk menandakan Tumbas dalam posisi offside. Skor tetap 1-1 hingga ujung pertandingan.
Laman resmi Federasi Sepak Bola Internasional, FIFA, menyebut VAR adalah sebuah tim yang bertugas meminimalkan kesalahan wasit dalam mengambil keputusan dalam hal gol dan pelanggaran yang mengarah ke gol, keputusan penalti dan pelanggaran yang mengarah ke keputusan penalti, insiden yang berpotensi sanksi kartu merah, dan kesalahan identifikasi pemain.
Mereka menjalankan tugas dengan bantuan seperangkat teknologi sistem kamera pengawas yang digunakan untuk menampilkan rekaman visual tiga dimensi sebuah momen krusial dalam pertandingan. Begitu ada momen krusial yang ditangkap kamera, mereka bisa langsung berkomunikasi dengan asisten wasit untuk diteruskan ke lapangan.
Terlihat sempurna. Namun di Indonesia, sejumlah kontroversi justru dipicu oleh keputusan VAR. Kontroversi terbaru membuat Kapten Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) Yuran Fernandez diganjar denda Rp 25 juta dan sanksi larangan beraktivitas dalam sepak bola Indonesia selama 12 bulan.
Dalam akun Instagram Story pribadinya, Yuran dengan emosional menyebut “Sepak bola di Indonesia hanya candaan. Makanya level dan korupsinya akan tetap sama. Jika Anda ingin menghasilkan uang, Anda bisa datang ke Indonesia. Jika Anda ingin bermain sepak bola serius, menjauhlah dari Indonesia.”
Yuran seperti melanjutkan emosinya di atas lapangan setelah golnya pada menit 12 ke gawang PSS Sleman dianulir wasit Nendi Rohaend setelah meninjau VAR. Menit 60, gol berbau pelanggaran oleh pemain PSS Gustavo Tocantins diprotes pemain PSM karena disahkan setelah wasit meninjau VAR.
PSM kalah 1-3 dalam pertandingan itu.
Daisy Christodoulou dalam buku I Can’t Stop Thinking about VAR yang terbit pada 2024 menyebut kehadiran VAR tidak mengeliminasi kesalahan manusiawi perangkat pertandingan. “In fact, it’s created brand-new mistakes, of a type we haven’t seen before,” katanya.
Christodoulou menyebutkan sejumlah contoh kesalahan yang dilakukan VAR. Salah satunya adalah yang terjadi dalam pertandingan Liverpool melawan Tottenham Hotspur pada 30 September 2023.
Luis Diaz berhasil mencetak gol, namun hakim garis mengangkat bendera tanda offside. Darren England, petugas VAR saat itu, mengecek kembali keputusan tersebut dan menemukan fakta bahwa gol yang dicetak pemain Liverpool asal Kolombia tersebut sah.
Masalahnya, Darren England tidak menyadari jika wasit di atas lapangan menyatakan sejak mula bahwa gol tersebut tak absah karena offside. Dia kemudian menyatakan bahwa ‘‘Check complete’, yang berarti keputusan awal wasit yang membatalkan gol Liverpool benar adanya.
Darren England menyadari kekeliruannya beberapa saat setelah pertandingan dimulai kembali. Terlambat. Liverpool kalah 1-2.
Manajer Liverpool Jurgen Klopp murka. Dengan nada sarkas, dia menuntut agar pertandingan diulang.
Menurut Christodoulou, ada ‘human error’ yang dilakukan karena ketidakmampuan wasit melihat sebuah kejadian yang begitu cepat. Di sinilah VAR diperlukan untuk mengidentifikasi.
Kesalahan lainnya terjadi karena inkompetensi. Kendati perangkat pertandingan punya kapasitas dan kemampuan untuk berbuat benar, mereka tetap saja berbuat salah.
Inkompetensi menjadi persoalan individual, bukan sistem. Masalahnya, sebaik apapun sebuah sistem yang dijalankan petugas tanpa kompetensi cukup, kegagalan hanya soal waktu.
PSSI harus mulai mengevaluasi kontroversi dalam pertandingan Liga 1 (dan tiga liga level di bawahnya) dengan memperhatikan inkompetensi perangkat pertandingan sebagai kemungkinan penyebab. Jika tak waspada, inkompetensi itu berpotensi membuat inkonsistensi keputusan wasit di lapangan yang mendelegitimasi otoritas PSSI dan kompetisi domestik.
PSSI bisa kehilangan kepercayaan sepenuhnuya dari publik. Buntutnya bisa panjang: mereka yang tidak percaya akan lebih memilih untuk apatis dan tidak lagi menyaksikan pertandingan sepak bola domestik. Toh pilihan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola negara lain melalui live streaming terbuka lebar. Jika sepak bola Indonesia kehilangan penonton, maka hanya soal waktu bagi investor untuk pergi.
Christodoulou mengusulkan transparansi sebagai solusi atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan VAR. “Saya ingin insiden VAR ditayangkan ulang di layar besar dalam stadion,” tulisnya.
Christodoulou sadar, otoritas sepak bola pasti akan menampik solusi itu, karena bisa meletakkan wasit dalam posisi tertekan. Selain itu, tayangan tersebut bisa memicu perilaku buruk fans dalam mereaksi keputusan wasit berdasarkan tayangan VAR.
Maka transparansi selektif, sebagaimana dilakukan badan perwasitan sepak bila Inggris, Professional Game Match Officials Limited (PGMOL), yang merilis audio percakapan antarperangkat pertandingan saat pembatalan gol Luis Diaz, bisa menjadi solusi.
Komisi Wasit PSSI juga harus bersikap tegas dan tramsparan dalam memberikan hukuman kepada wasit yang melakukan kesalahan serius, serta mengumumkannya ke publik, sebagaimana dilakukan PGMOL terhadap Darren England dan David Coote.
Coote adalah wasit dan ofisial VAR dalam sejumlah pertandingan Liverpool. Sebuah video yang beredar di media usai pertandingan Liverpool melawan Aston Villa, 9 Desember 2024, mengungkapkan kebenciannya kepada Liverpool dan Jurgen Klopp.
Setelah melalui serangkaian investigasi, PGMOL memecat Coote pada Desember 2024 karena menunjukkan bias sikap terhadap sebuah tim sepak bola.
Bagai jatuh tertimpa tangga, UEFA juga melarang aktivitas sebagai wasit hingga Juni 2026, setelah Coote ketahuan menghirup bubuk putih yang diduga narkoba selama penyelenggaraan Euro 2024.
Maka setelah Liga 1 musim 2024-25 selesai, PSSI sebaiknya mengevaluasi kembali penggunaan VAR dan kompetensi perangkat pertandingan.
Akurasi keputusan terhadap momentum sekecil apapun dalam sebuah pertandingan akan menentukan nasib sebuah tim di akhir kompetisi. Menentukan siapa yang akan jadi pemenang, siapa yang akan menjadi pecundang di akhir musim. Dan sudah sepatutnya absurditas tidak menjadi variabel di dalamnya. [wir]






