Mojokerto (beritajatim.com) – Pabrik tempe milik Riyono di Dusun Latsari, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis jadi Industri Kecil dan Menengah (IKM) unggulan Kabupaten Mojokerto. Pabrik ini punya kapasitas produksi tempe 600 kilogram per hari untuk memasok sejumlah pasar tradisional
Sedikitnya 20 pedagang keliling setiap hari datang untuk mengambil tempe pabrik dengan karyawan tujuh orang ini. Salah satu alasannya, IKM unggulan ini menggunakan kedelai impor berkualitasyang membuat citra rasa tempe enak dan empuk.
Proses produksi tempe dimulai dari membersihkan dan merebus kedelai sampai benar-benar matang dan empuk. Jika sudah empuk dengan, kedelai diangkat lalu digiling agar kulit ari terkelupas.
Proses penggilingan dilakukan juga agar biji kedelai terbelah jadi dua bagian. Setelah digiling, selanjutnya kedelai yang sudah terkelupas itu dicuci, ditiriskan, lalu diberi ragi.
Baca Juga:
Bupati Mojokerto Launching Air Minum Merk MASA
Setelah diberi ragi, kedelai tersebut dicetak dengan panjang ukuran 1,5 meter dan didiamkan selama 24 jam. Setelah itu, kedelai yang sudah jadi tempe kemudian dipotong dengan ukuran 20 cm dan siap dijual.
Setiap sore, para pedagang keliling yang merupakan warga sekitar datang mengambil tempe untuk dijual ke pasar maupun dijual keliling. Ini lantaran proses produksi dimulai pukul 08.00 WIB.
Salah satu karyawan, Pendik mengatakan, dalam sehari tempat kerjanya mampu memproduksi 600 kg atau 6 kuintal tempe. “Saya sudah bekerja di sini selama dua tahun. Ada tujuh orang karyawan termasuk saya yang bekerja di sini, semuanya warga sekitar,” ujarnya, Jumat (2/6/2023).
Salah satu staf Kantor Desa Mlirip, Hanim Faizah mengatakan, ada dua warga di desanya yang memproduksi tempe. “Salah satunya milik Pak Riono ini. Setiap hari, Pak Riono dibantu tujuh karyawan, warga sekitar dengan produksi sampai 6 kuintal,” ungkapnya.
Baca Juga:
Siswa SMP Negeri 2 Kemlagi Mojokerto Buat Kayu Putih Jadi Olahan Mamin
Masih kata Hanim, Riono menggunakan bahan baku kedelai impor karena kwalitasnya lebih bagus dan menghasilkan cita rasa tempe enak, empuk dan gurih. Penjualannya tempe produksi IKM sejak 10 tahun tersebut ke sejumlah pasar tradisional di sekitar.
“Untuk menjualkan tempe berkeliling dari desa-desa dan ke pasar-pasar tradisional di wilayah Mojokerto. Seperti Pasar Tanjung Anyar. Pedagang kelilingnya berjumlah 20 orang juga dari warga sekitar. Ini merupakan salah satu IKM unggulan Desa Mlirip,” tegasnya. [tin/beq]







