Ponorogo (beritajatim.com) — Menjelang Hari Raya Idul Adha, ratusan juru sembelih mengikuti pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang digelar di Kampus 2 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi penyembelih agar proses kurban sesuai standar syariat dan regulasi yang berlaku. Momentum ini dinilai penting karena berkaitan langsung dengan jaminan kehalalan daging yang akan dikonsumsi masyarakat.
Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ponorogo, Mohammad Tohari, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 250 juru sembelih. Peserta tidak hanya berasal dari Ponorogo, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Ngawi dan Magetan, serta sejumlah kabupaten/kota lain di wilayah Mataraman. Dia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah persiapan, menjelang meningkatnya aktivitas penyembelihan hewan kurban.
“Ada 250 juru sembelih yang ikut pelatihan ini yang diselenggarakan DPD Juleha Ponorogo. Ada dari Ngawi, Magetan, beberapa kab/kota sekitar Ponorogo yang mengikuti kegiatan ini,” kata Mohammad Tohari, Kamis (14/5/2026).
Tohari menjelaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini adalah memastikan seluruh proses penyembelihan hewan kurban berjalan sesuai ketentuan. Pun Dia merujuk pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang mewajibkan seluruh produk yang beredar di Indonesia memiliki sertifikasi halal. Ketentuan tersebut mencakup bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat, termasuk daging hasil penyembelihan hewan kurban. Karena itu, peningkatan kompetensi juru sembelih menjadi bagian dari implementasi regulasi tersebut.
“Tujuan pelatihan mempersiapkan jelang Idul Adha. Kita memastikan sebagaimana regulasi UU 33/2014 semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di Indonesia ini wajib bersertifikat halal. Termasuk bahan yang akan dikonsumsi juga harus halal,” jelasnya.
Tohari menambahkan bahwa jaminan kehalalan daging kurban menjadi tanggung jawab bersama, antara pemerintah dan lembaga keagamaan. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UIN, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta komunitas Juleha merupakan langkah strategis untuk memastikan standar penyembelihan terpenuhi. Dengan pelatihan ini, para juru sembelih diharapkan memiliki pemahaman teknis dan syar’i yang memadai. Hal tersebut dianggap krusial karena masyarakat setiap hari mengonsumsi produk daging dan unggas.
“Karena itu kita bersinergi dengan berbagai lembaga yang ada saat ini, dengan UIN, MUI dan Juleha ini menjamin daging kurban yang diedarkan halal,” ungkapnya.
Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. Dia menyebut peserta tidak hanya berasal dari Ponorogo, tetapi juga dari Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, hingga Kediri dengan total sekitar 250 orang. Menurutnya, keberadaan Juleha akan semakin memperkuat jaminan penyajian daging halal di tengah masyarakat. Lisdyarita berharap ke depan, kebutuhan konsumsi masyarakat dapat terpenuhi dengan standar kehalalan yang lebih terstruktur.
“Ternyata yang mengikuti tidak hanya Ponorogo. Ada dari Ngawi, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri. Ada sekitar 250-an. Dengan adanya Juleha ke depannya bisa menyajikan daging yang halal di masyarakat. Sebagai masyarakat, bisa menikmati makanan-makanan halal,” pungkas Lisdyarita. [end/aje]






