Blitar (beritajatim.com) – Kabupaten Blitar sedang panen raya padi dari 9.000 hektare sawah. Stok beras dipastikan aman hingga Lebaran 2023 nanti.
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, Hikma Wahyudi mengatakan, dengan panen raya padi di lahan seluas 9.000 hektar tersebut maka Blitar akan mengalami surplus beras.
“Selama beberapa bulan terakhir ini wilayah kabupaten Blitar sudah panen raya terutama satu bulan terakhir ini sudah ada 9.000 hektar padi yang panen,” kata Hikma Wahyudi, Kamis (16/3/2023).
Hikma menjelaskan hingga April 2023 mendatang diperkirakan ada sekitar 10 ribu hektar padi yang akan bisa dipanen. 10 hektar hektar padi tersebut tersebar di berbagai kecamatan di wilayah kabupaten Blitar.
Banyaknya lahan padi yang akan panen hingga bulan April mendatang membuat Pemerintah Kabupaten Blitar menjamin bahwa stok beras untuk kebutuhan Ramadhan dan Idulfitri di wilayahnya aman. Masyarakat pun tidak perlu khawatir terjadinya kelangkaan beras selama Ramadhan dan Idulfitri.
“Kalau sampai April ada 10 ribu hektar padi yang akan dipanen ya insya Allah stok aman masyarakat nggak perlu khawatir kalau terjadi kelangkaan dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Secara umum pertanian padi di wilayah kabupaten Blitar banyak yang telah memiliki IP 300 atau tiga kali panen. Namun ada pula sejumlah wilayah yang bahkan telah mencapai IP 400 atau 4 kali panen padi dalam setahun.
Baca Juga:
Gunung Gareng Blitar, Destinasi Tepat Nikmati Sunset dan Seafood
Meski demikian sejumlah Kecamatan juga masih memiliki IP antara 100 hingga 200. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar akan terus berusaha meningkatkan produktivitas padi di wilayahnya demi menjamin ketersediaan dan stok beras di pasaran.
Lebih lanjut Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar berharap pihak Bulog bisa menyerap hasil panen padi para petani di Kabupaten Blitar. Sehingga harga beras di tingkat petani tetap bisa tinggi meski di masa panen raya seperti saat ini.
Pihaknya juga meminta Bulog dan pemerintah untuk tidak melakukan impor beras yang akan berdampak kepada anjloknya harga gabah di tingkat petani.
“Kami hanya berharap pemerintah dan Bulog bisa menyerap hasil panen dari wilayah kabupaten Blitar sehingga para petani tetap bisa untung dan harganya tidak jatuh di saat panen raya,” pungkasnya.
Sementara itu para petani di wilayah kabupaten Blitar justru mulai mengeluhkan anjloknya harga gabah di musim panen raya ini. Salah satu petani yang mengeluhkan anjloknya harga gabah adalah Mu’i.
Baca Juga:
Mahasiswa Politeknik Christo Re Maumere NTT Belajar Kelola Wisata di Blitar
Petani asal kecamatan Nglegok kabupaten Blitar tersebut mengeluhkan anjloknya harga gabah sejak beberapa pekan lalu. Saat ini harga gabah di tingkat petani bahkan telah menyentuh harga Rp5.800 per kilogramnya.
Harga gabah tersebut anjlok dari harga sebelumnya yang mencapai Rp6.800 per kilogramnya.
“Ini harganya jok terus sampai saat ini Rp5.800 tapi kemungkinan besar akan terus turun hingga panen raya berakhir,”
Kondisi itu pun membuat para petani khawatir dan terancam merugi akibat murahnya harga jual gabah serta mahalnya harga pupuk serta pestisida. Para petani pun berharap pemerintah tidak melakukan impor beras yang akan berdampak pada rusaknya harga gabah di tingkat petani. [owi/beq]






