Jombang (beritajatim.com) – Selama ini orang mengenal Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang sebagai surganya buah durian. Padahal di Kecamatan Bareng Jombang juga tumbuh subur pohon durian.
Jika Wonosalam durian jenis bido, di Kecamatan Bareng adalah jenis mbah woro. Belum banyak orang yang mengenalnya. Adalah Desa Karangan yang menjadi sentra durian jenis tersebut. Populasi pohon durian mbah woro di Kecamatan Bareng kisaran tujuh ribu. Dari jumlah itu, 80 persennya berada di Desa Karangan.
Agus Santoso (46), petani Dusun Jeruk Desa Karangan, melakukan pengembangan durian mbah woro sejak 2004. Karena keseriusannya merawat pohon durian, oleh warga sekitar Agus dijuluki petani nekat. Seiring laju waktu, jerih payah Agus berbuah manis. Pohon durian mbah woro berkembang pesat.
Baca Juga: Kandungan Durian Wonosalam Jombang Diuji, Ini Hasilnya
Pada Jumat (27/1/2023), Agus sedang melayani konsumen durian yang ada di rumahnya. Berkali-kali dia membelah buah berduri tersebut. Lalu menyuguhkan kepada pembeli. Para pengunjung tersebut menikmati durian di ruang tamu. Jika sudah puas, mereka membeli durian untuk dibawa pulang.
Agus kemudian beranjak dari rumahnya sembari membawa sebilah pisau dan sebotol air minum. Petani nekat ini hendak pergi ke kebun. Jika ditempuh dengan jalan kaki, jarak rumah dengan kebun tersebut sekitar 12 menit. “Kalau pakai motor jalannya setapak dan licin. Enak jalan kaki saja, lebih cepat,” kata Agus.
Sampai di lokasi, Agus menunjukkan pohon durian mbah woro yang paling tua. Umur pohon itu empat generasi manusia atau sekitar 200 tahun. Besar batang pohon durian itu dua rangkulan manusia dewasa. Tingginya 20 meter. Agus naik pohon tua tersebut. Dia memetik buah yang sudah masak. Buah-buah lainnya nampak bergantungan. Baunya harum semerbak.

Menurut Agus, itulah pohon durian jenis mbah woro yang paling tua di desanya. Dari pohon itulah pembibitan dilakukan oleh Agus hingga populasinya mencapai tujuh ribu pohon. Jika musim panen tiba, dari pohom tertua itu menghasilkan antara 800 hingga 1000 butir.
“Panen pertama November hingga Desember. Kemudian panen lagi pertengahan Januari hingga Februari. Ini baru satu Minggu mulai panen. Bentuknya seperti ini durian mbah woro. Berbeda dengan durian bido Wonosalam,” ujarnya.
Baca Juga: 192.152 Pohon Durian di Wonosalam Jombang Sudah ‘Ber-KTP’
Durian mbah woro, lanjut Agus, bentuknya meruncing. Buah tersebut tidak bisa didudukkan. Sedangkan durian bido bentuknya bulat. Sehingga durian bisa ‘duduk’. Tentu saja, rasa kedua jenis buah tersebut juga berbeda.
“Durian mbah woro itu dagingnya lembut creamy. Rasanya pahit, manis dan gurih. Sedangkan warnanya kuning pucat. Dagingnya tebal, bijinya kecil. Kalau durian lokal lainnya hanya pahit manis rasanya. Lalu prosentase daging buahnya kalau durian mbah woro mencapai 30 persen, kalau durian lokal lain hanya 10 hingga 14 persen,” lanjut Agus.
Durian Nikmat Langganan Pejabat

Usai memetik buah dari pohon durian tertua di desanya. Agus kembali ke rumah. Di depan rumah itu, nampak buah durian menumpuk. Itu adalah hasil panen petani yang dijual kepada dirinya. Selama ini warga desa mempercayakan kepada Agus untuk menjual durian-durian itu.
Maka tidak heran, setiap hari para pengunjung hilir mudik di rumah Agus untuk membelinya. Ada yang menyantap di tempat, ada pula yang membawanya pulang. Selain warga biasa, banyak juga pejabat yang datang untuk menikmati durian mbah woro.
Dua Minggu lalu rombongan Wakil Bupati Jombang Sumrambah mendatangi rumah Agus memborong buah berduri tersebut. Lalu menyantapnya di lokasi. Terakhir adalah rombongan pegawai PLN dari Mojokerto.
Baca Juga: Sudah Dianggarkan Rp 280 Juta, Kenduri Durian Wonosalam 2021 Ditiadakan
“Pernah juga rombongan dari DPRD Jombang dan DPR RI. Mereka datang ke sini untuk memborong durian mbah woro. Di luar itu, kami juga melayani pesanan ke luar kota. Semisal ke Surabaya, Mojokerto, Gresik, serta Lamongan,” ujar Agus sembari menunjukkan buah yang dimaksud.
Barapa harga durian mbah woro? Agus menjelaskan, durian mbah woro tidak dijual per butir. Tapi menggunakan sistem kiloan. Nah, harganya Rp 50 ribu per kilogram. Satu butir durian mbah woro bobotnya antara 1,5 hingga 4,5 kilogram.
Namun untuk durian lokal lainnya, Agus mematok harga antara Rp 35 hingga Rp 70 ribu tergantung besar dan kecilnya. “Omzet saya satu bulan sekitar Rp 15 juta. Karena juga mengirim pesanan ke luar kota,” pungkasnya.
Asal Muasal Durian Mbah Woro

Agus juga menceritakan asal mual durian jenis mbah woro yang menjadi ‘trade mark’ di desanya. Agus tidak tahu pasti kapan munculnya. Tapi durian tersebut diberi nama mbah woro karena tumbuh pertama kali di dekat makam sesepuh desa yang bernama mbah woro.
Induk pohon tertua itu sampai sekarang masih ada. Buahnya lebat. Rasanya juga tak kalah hebat.
Dari pohon itulah Agus melakukan pembibitan. Sosok Mbah Woro sendiri juga masih misterius. Berdasarkan cerita yang diterima Agus dari buyutnya, Mbah Woro merupakan pembantu orang belanda.
Ratusan tahun lalu di Desa Karangan hiduplah seorang tuan Belanda. Orang tersebut memelihara seekor macan. Di rumah itu ada dua orang pembantu. Suatu ketika Tuan Belanda bepergian ke luar kota. Sementara di rumahnya dua pembantu menunggu sembari merawat seekor macan.
Ironsinya, saat pergi ke luar kota, Tuan Belanda tidak meninggalkan daging untuk makanan harimau peliharaan. Karena lapar, hewan buas tersebut menyantap salah satu pembantu. Tewas. Kemudian peristiwa itu diworo-woro atau dikabarkan ke warga sekitar oleh pembantu satunya.
“Pembantu yang meninggal disantap macan itu kemudian dijuluki Mbah Woro. Karena saat meninggal diworo-worokan. Kami di desa ini juga tidak tahu pasti nama aslinya. Di dekat makam itu tumbuh pohon durian. Itu cerita yang kami dapat dari mbah-mbah dulu,” pungkas petani nekat dari Dusun Jarak Desa Karangan Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang ini. [suf/ted]






