Jember (beritajatim.com) – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) berharap para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, naik kelas.
“Saya pernah baca ada sebuah penelitian di Inggris, bahwa negara penghasil UMKM terbesar adalah negara-negara miskin, seperti Botswana, Chile, Zimbabwe, Peru. (Warga) mereka lari ke UMKM karena sudah tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Tapi level UMKM-nya tidak pernah naik kelas. Hanya di level mikro seperti penjualan souvenir saat wisatawan datang,” kata Ketua Dewan Pembina Hipmi Jember Agusta Jaka Purwana, ditulis Minggu (1/1/2023).
Agusta berharap pemerintah daerah mendukung peningkatan kelas UMKM di Jember. “Dari mikro menjadi menengah, menengah jadi usaha besar. Ini perlu sentuhan dari pemerintah,” katanya.
Agusta menilai, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember 2023 masih belum begitu bersahabat dengan UMKM. “Kita lihat ke depannya struktur anggaran pemerintah seperti apa. Apakah memihak UMKM atau bekerja di wilayah infrastruktur,” katanya.
Agusta khawatir, jika peningkatan populasi UMKM di Jember tidak diikuti peningkatan kelas maupun kualitas mereka. “Kami takut Indonesia seperti negara-negara miskin. Banyak UMKM tidak bisa berkembang, dan justru merepotkan pemerintah,” katanya.
Menurut pria yang juga legislator DPRD Jember ini, UMKM bukan hanya butuh modal. “Yang mereka butuhkan adalah pasar dan edukasi bagaimana membuat produk menjadi lebih menarik. Jadi (UMKM) bukan hanya diberi alat, habis itu selesai. Jadi dari hulu sampai hilir, pemerintah harus bertanggungjawab pada UMKM yang ada,” kata Agusta.
“Kemasan produk juga harus dibuat menarik. Hipmi ikut membantu inovasi pembangunan UMKM di Jember. Untuk modal, ada beberapa teman yang mengambil dana CSR masing-masing perusahaan untuk mengajari UMKM bikin packaging yang baik,” kata Agusta.
“Jaringan Hipmi juga seluruh Indonesia, tak hanya di Jember. Jadi kita bisa lempar ke teman-teman Hipmi di daerah lain,” kata Agusta.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm-jember”]
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Meneggah Daerah (RPJMD) Jember 2021-2026, Pemerintah Kabupaten Jember juga melakukan pemberdayaan bagi usaha mikro, kecil dan menegah. Pemberdayaan bertujuan untuk mendorong produktifitas UMKM sehingga UMKM diharapkan mampu bersaing dan memiliki siklus bisnis yang berkelanjutan.
Menurut RPJMD, anggaran belanja daerah memfasilitasi dan memberikan stimulan pada sektor riil melalui bantuan modal dan pembinaan/pendampingan kepada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), juga melalui stimulasi pembangunan ekonomi baik di sektor produktif maupun saranan dan prasarana wilayah. Pemberdayaaan koperasi dan UMKM diarahkan pada penumbuhan wirausaha baru, penguatan wirausaha serta kelembagaan ekonomi dan diversifikasi usaha berbasis potensi lokal.
Agusta mengingatkan, perekonomian di Kabupaten Jember digerakkan oleh sektor swasta dan konsumsi masyarakat. Investasi yang masuk ke Jember masih perlu digenjot. “Saat ini pertumbuhan ekonomi Jember empat persen. Kalau lima persen ke atas, berarti ada investasi yang masuk,” katanya. [wir/suf]






