Tahun 1982, Spanyol ditunjuk menjadi tuan rumah. Tak ada yang memperhitungkan Italia bakal juara. Sebelum piala dunia, Dino Zoff dan kawan-kawan diguncang skandal kompetisi Serie A. Sejumlah pemain mendapat sanksi, karena terlibat pengaturan skor, di antaranya Paolo Rossi. Rossi dijatuhi sanksi tiga tahun larangan bermain, yang kemudian dikurangi menjadi dua tahun. Ia baru mengakhiri masa hukumannya pada 29 April 1982, dan dipanggil memperkuat timnas Italia oleh Enzo Bearzot.
Penampilan Italia awalnya jauh dari kata mengesankan. Satu grup dengan Kamerun, Polandia, dan Peru, Italia hanya mengemas tiga kali seri. Tim Azzuri lolos ke babak selanjutnya hanya karena selisih gol lebih baik. Namun saat babak penyisihan grup putaran selanjutnya, Italia tampil cukup bagus dengan mengandaskan Brasil 3-2 dan Argentina 2-1.
Di semifinal, Rossi memborong dua gol dan membawa kemenangan 2-0 atas Polandia. Ini gol kelimanya, setelah tiga gol sebelumnya diberondongkan ke gawang Brasil. Di babak final, Rossi kembali menyumbangkan satu gol untuk menyudahi perlawanan Jerman Barat 3-1 dan membuat Italia memboyong piala dunia untuk kali ketiga. Paolo Rossi mengubah sosok dirinya ‘from zero to hero’ dan dia dinobatkan sebagai pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak (6 gol) selama turnamen.
Meksiko kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1986. Kali ini lahir pemain hebat sepanjang masa dari Argentina: Diego Armando Maradona. Ia disebut-sebut setara dengan Pele, bintang hebat lainnya dari Brasil. Namun beda dengan Pele yang jauh dari kontroversi di lapangan hijau, penobatan Maradona diiringi riuh perdebatan mengenai aksi ‘Tangan Tuhan’.
‘Tangan Tuhan’ diambil dari pernyataan Maradona, soal golnya ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton dalam babak perempat final. Saat itu Maradona berebut bola dengan Shilton di udara. Maksud hati Shilton ingin meninju bola itu jauh-jauh dari gawangnya. Ukuran tubuhnya yang lebih tinggi dari Maradona jelas menguntungkan. Namun, dengan cerdik (atau licik?) Maradona secara samar menyorongkan bola sedikit dengan tangannya, dan gol!
Para pemain Inggris protes. Wasit tak peduli dan tetap mengabsahkan gol itu. Maradona sendiri menyebut ia dibantu dengan tangan Tuhan. Namun dalam waktu singkat, kontroversi itu dijawab Maradona dengan apa yang disebut sebagai gol terbaik abad itu. Dari lapangan tengah, ia sendirian menggiring bola melewati lima pemain Inggris sebelum akhirnya menyarangkan bola ke gawang Shilton.
Berhadapan dengan Jerman Barat di final, Maradona memang tidak mencetak gol. Namun ia memberikan umpan cantik kepada Jorge Burruchaga untuk membuat kedudukan 3-2, dan membawa Argentina juara dunia untuk kedua kalinya. Maradona dianugerahi Bola Emas sebagai pemain terbaik selama turnamen.
Setelah dua kali berturut-turut gagal di final, pada 1990, Jerman Barat kembali menembus babak final. Kali ini anak asuhan Franz Beckenbauer ini menjadi juara dengan mengalahkan Argentina 1-0 melalui tendangan penalti Andreas Brehme pada menit 85.
Satu gol dalam sebuah partai final seperti menjadi puncak dari buruknya kualitas permainan Piala Dunia kali ini: rata-rata- gol terendah sepanjang sejarah, yakni 2,21 per pertandingan. Negative Football sepanjang turnamen ditandai pula dengan banyaknya pertandingan yang diakhiri dengan hasil seri dan harus ditentukan dengan adu penalti: empat laga.
[berita-terkait number=”4″ tag=”piala-dunia-2022″]
Wasit mengeluarkan 16 kartu merah. Salah satu kartu merah yang paling dikenang adalah kartu merah untuk pemain Belanda Frank Rijkaard dan Rudi Voller dalam laga Jerman Barat melawan Belanda. Mereka terlibat adu mulut. Rijkaard meludahi Voller saat sama-sama berjalan keluar lapangan. Jerman Barat menang 2-1 dan melaju ke perempat final. Namun itu sama sekali bukan kemenangan yang indah.
Piala Dunia terselamatkan oleh kejutan Kamerun. Tim Singa Afrika ini untuk pertama kalinya dalam sejarah mencapai babak perempat final. Mereka membekap Argentina 1-0 pada laga pembukaan dan mengalahkan Rumania 2-1 di penyisihan Grup A. Di babak 16 besar, Kamerun menundukkan Kolombia 2-1 dan melaju ke perempat final. Sayang, mereka dikalahkan Inggris 2-3.
Bintang Kamerun adalah penyerang berusia 38 tahun, Roger Milla. Ia mencetak empat gol sepanjang turnamen. Salah satunya ke gawang Rene Higuita, kiper Kolombia yang dikenal atraktif dan dijuluki El Loco alias Si Sinting. Milla terkenal karena gaya selebrasinya usai mencetak gol, yakni dengan melakukan tarian goyang pinggul di sudut lapangan. [wir/ted]






