Surabaya (beritajatim.com) – Di balik ketajamannya bersama Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta menyimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui publik.
Penyerang berusia 22 tahun itu mengungkapkan bahwa sebelum menjadi salah satu striker andalan Indonesia, ia pernah berada dalam situasi tanpa kepastian kontrak saat mengikuti masa trial di PSM Makassar.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik balik yang membentuk mentalitasnya hingga mampu bersaing di level tertinggi sepak bola nasional.
Sempat Tanpa Kepastian Setelah Tinggalkan Persikabo
Sananta mengawali ceritanya dengan mengenang masa ketika memperkuat Persikabo dalam kontrak berdurasi tiga bulan di akhir musim kompetisi.
Setelah kontraknya berakhir, ia mendapat panggilan dari pelatih PSM Makassar saat itu, Bernardo Tavares. Namun, kedatangannya ke Makassar bukan untuk langsung menandatangani kontrak, melainkan mengikuti masa seleksi atau trial.
Selama sepekan menjalani latihan, Sananta mengaku belum memperoleh kepastian mengenai masa depannya di klub berjuluk Juku Eja tersebut.
“Di sana saya seminggu. Karena belum ada kejelasan kontrak, jadi saya tanya ke pelatih, ‘Coach, ini kapan kontraknya? Saya butuh kejelasan juga,'” kenang Sananta di Surabaya, Sabtu (11/7/2026).
Karena tak kunjung mendapat kepastian, ia akhirnya memberanikan diri menyampaikan langsung kepada manajemen bahwa dirinya membutuhkan kejelasan.
Dua hari kemudian, manajemen PSM Makassar mengirimkan draf kontrak yang langsung ditandatanganinya.
Debut Manis Bersama PSM Makassar
Kepercayaan yang diberikan Bernardo Tavares langsung dibalas Sananta dengan penampilan impresif di lapangan.
Ia menjalani debut saat menghadapi Arema FC sebelum akhirnya mencuri perhatian ketika dipercaya menjadi starter melawan Persib Bandung.
Dalam pertandingan tersebut, Sananta sukses mencetak dua gol dan mulai menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang muda yang menjanjikan.
“Dari situ confidence saya tinggi. Terus game by game saya cetak gol terus, termasuk melawan Persebaya saya juga cetak gol,” ujarnya.
Bernardo Tavares Jadi Sosok Penting
Bagi Sananta, Bernardo Tavares merupakan figur yang paling berjasa dalam perkembangan kariernya.
Pelatih asal Portugal itu bukan hanya memberikan kesempatan bermain, tetapi juga terus membangun mentalitasnya agar tetap rendah hati dan bekerja keras.
“Dia yang membantu banyak, yang kasih motivasi saya, yang terus mengingatkan saya untuk stay humble. Dia selalu bilang, ‘Sananta, kamu harus kerja keras, kamu pemain muda, kamu harus gigih,'” tutur Sananta menirukan pesan sang pelatih.
Bersaing dengan Striker Asing
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada musim yang menjadi titik balik kariernya, Sananta berhasil mencetak 11 gol di kompetisi Liga 1.
Catatan tersebut dinilai istimewa karena ia harus bersaing memperebutkan posisi utama dengan sejumlah penyerang asing.
“Itu bukan hal yang mudah bagi saya. Saya tetap push diri saya sendiri, karena saingan saya adalah pemain asing,” katanya.
Tak hanya bersinar secara individu, musim tersebut juga berakhir manis karena Sananta turut membawa PSM Makassar meraih gelar juara Liga 1.
Ia menyebut pencapaian itu sebagai salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan hidup dan karier sepak bolanya.
Menutup ceritanya, Sananta berharap ketajamannya di depan gawang dapat terus terjaga sehingga mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi klub maupun Timnas Indonesia pada berbagai kompetisi mendatang. (way/ted)






