Mojokerto (beritajatim.com) – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) bekerja sama dengan PT Pertamina untuk memproduksi bahan bakar E5 (bahan bakar yang memiliki kandungan bioetanol 5 persen). Secara langsung, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaunching dimulainya Program Bioetanol Tebu untuk Ketahanan Energi, Jumat (4/11/2022).
Launching dimulainya Program Bioetanol Tebu untuk Ketahanan Energi dilakukan di PT Energi Agro Nusantara (Enero) Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Dirut Holding Perkebunan Nusantara PTPN III Mohammad Abdul Ghani dalam pemaparannya mengatakan terkait jalur produksi bioetanol.
“Pertama, bioetanol dibuat dari tetes tebu atau molases, yakni produk sampingan dari pabrik gula. Seperti di PT ENERO, tetes tebu dicampur dengan ragi, lalu diencerkan dengan air 10 kali lipat sampai terjadi fermentasi. Campuran tersebut didestilasi menghasilkan etanol. Jalur kedua langsung mengolah nira atau sari tebu menjadi bioetanol,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bioetanol”]
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengatakan, kerja sama tersebut cakupannya cukup luas. Yang pertama melakukan pengembangan bersama dan yang kedua adalah membeli dari produk yang dihasilkan. “Produknya ada beberapa, ini yang pertama bioetanol,” katanya.
Bioetanol tersebut akan dicampur dengan gas oline sehingga bisa menjadi biogasoline. Pengembangan tersebut sudah berjalan yakni mencampur fame dengan diesel, yang disebut dengan biodiesel 30 persen (B30) dan akan ada biofuel. PTPN IIII memiliki aset dan produksi dari sawit dan tebu sehingga bioenergi dapat diwujudkan.
“Fokus hari ini, difokuskan kepada bioetanol yaitu ethanol yang dihasilkan dari proses tebu. Dengan kapasitas yang sekarang ada di sini, belum bisa kita mewujudkan E5. Untuk mewujudkannya kita harus membangun kurang lebih 10 sampai 12 pabrik yang seperti ini. Dalam pengembangan itu, kita akan kerjasama dengan PTPN,” jelasnya.
Selain nanti, lanjut Nicke, tentunya Pertamina sebagai outfitter (toko) dari produk ini. Terkait harga, seperti biodiesel. Pemerintah yang menetapkan harganya namun ada mekanisme yang dinilai akan sama dengan biodiesel. Menurutnya pemerintah akan menjaga varietas yang ada saat ini, seperti halnya kelapa sawit.
“Biodiesel itu kan harga ditetapkan oleh pemerintah dan ada mekanisme. Yang terkait ini mungkin mekanismenya sama, biogasoline dengan biodiesel itu akan sama. Itu nanti akan ada mekanisme bagaimana bantalan pemerintah untuk menjaga. Kalau kaitannya dengan bioenergi, harga akan ditetapkan oleh pemerintah” ujarnya.
Nieke menjelaskan, Pertamina Patra Niaga yang akan mencampur dengan biogasoline. Pertamina Patra Niaga merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang perdagangan olahan minyak bumi. Sementara terkait harga, Nieke menegaskan, jika harga ditetapkan oleh pemerintah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ptpn”]
“Karena ini kan produk yang masih disubsidi oleh pemerintah sehingga nanti harga sama dengan biodiesel B30 mekanismenya. Kita berharap selain nanti impor gas oline berkurang, juga bisa menurunkan emisi karbon. Jadi target dari Bapak Presiden zero emission (NZE) 2060 juga bisa tercapai, memperbaiki neraca perdagangan juga tercapai,” tegasnya.
Nieke menambahkan, sehingga kerjasama tersebut akan menghasilkan dua hal. Dari sisi negara dan lingkungan jadi lebih baik, di sisi lain kesejahteraan petani ditingkatkan karena nilai tebu yang dihasilkan bukan menjadi gula saja tapi juga bisa menjadi bioetanol yang bisa menjadi bioenergi.
“Ini masih kurang. Untuk memproduksi E5, kebutuhannya mencapai kurang lebih 350 ribu KL/per tahun, jadi masih kurang banyak. Kita harus membangun pabrik yang seperti ini, minimal 10 pabrik jadi kita perlu melakukan investasi dan ekslarasi dalam prosesnya,” paparnya terkait kendala yang dihadapi dalam program tersebut. [tin/suf]







