Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto mengatakan, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, masih bisa dikendalikan. Hanya sekitar tiga persen sapi yang terkena penyakit itu dari populasi keseluruhan.
“Populasi sapi kita di Jember ada 275 ribu ekor. Dinas Peternakan dan para relawan dokter sudah berkeliling ke peternakan-peternakan. Sapi yang dibeli untuk hari raya Idul Qurban sudah melalui pengecekan semua,” kata Hendy, saat menghadiri pemotongan hewan korban oleh Paguyuban Saras, di Jalan Letjen Sutoyo, Jember, Sabtu (9/7/2022).
Hendy meminta masyarakat tetap tenang. “Pembagian daging kurban juga diharapkan tetap mematuhi protokol kesehatan, dan kemasan daging tidak menggunakan plastik, tapi besek,” katanya.
Sebelumnya, Sekretaris Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Jember Dokter Hewan Sugiarto berharap wabah tak berlanjut. “Tapi potensi alam yang sering hujan, menyebabkan penyebaran virus semakin cepat, daya tahan tubuh ternak menurun, (ternak yang terjangkit) bisa mencapai 20 ribuan ekor,” katanya, Rabu (22/6/2022).
Kalkulasi ini didasarkan pada kurva pertambahan jumlah sapi yang terkena PMK. Tercatat pada 21 Juni 2022, jumlah sapi yang terkena PMK baru 4.079 ekor. Jumlah itu membengkak. Berdasarkan data yang dikeluarkan Pemkab Jember, Jumat (8/7/2022) siang, total 10.405 ekor sapi terjangkit wabah PMK. Seratus ekor sembuh, 63 ekor mati, dan empat ekor dipotong paksa. Saat ini, masih 10.259 ekor sapi yang dirawat.
Vaksinasi menjadi senjata untuk mencegah wabah tak berlanjut. Vaksinasi mulai dilakukan di Jember, dan sudah 7.301 ekor sapi disuntik. Namun vaksinasi total kemungkinan baru bisa dilaksanakan pada Agustus, setelah vaksin lokal sudah diproduksi. Pemkab Jember berharap minimal bisa memvaksin 80 persen dari populasi ternak.
Dengan jumlah 95 orang petugas lapangan, pemerintah daerah sebenarnya sudah cukup kerepotan. “Sedangkan pengobatan butuh waktu lebih dari tiga minggu, Tingkat kematiannya rendah,” kata Sugiarto.
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-pmk”]
Sugiarto meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Jumlah sapi yang sehat masih lebih banyak daripada yang sakit. “Usahakan membeli ternak dari peternak langsung,” katanya. Dinas Peternakan juga tidak berdiam diri dan terus memberikan sosialisasi serta penyemprotan disinfektan di pasar-pasar hewan. Sosialisasi dilakukan di hampir semua desa agar peternak tahu cara menangani penyakit tersebut.
Sugiarto menyarankan kepada peternak agar menjauhi ternak yang berkerumun, karena bisa menjadi vektor penularan. “Kalau ada ternak yang sakit, jangan masuk kandang, kemudian pindah ke kandang yang lain karena bisa menyebabkan penularan. Jaga kebersihan kandang. Bisa disemprot disinfektan atau garam asam. Beri tambahan pangan bergizi atau vitamin agar daya tahan tubuh ternak semakin kuat,” katanya.
Peternak juga disarankan mengurangi aktivitas di pasar hewan. “Baik jual beli dan sebagainya, karena potensi penularan akan semakin besar,” kata Sugiarto. [wir/suf]






