Ponorogo (beritajatim.com) – Pengolahan sampah menjadi briket di tempat pembuangan akhir (TPA) Mrican Kecamatan Jenangan Ponorogo sempat dipuji oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Namun, keadaan mesin-mesin dari teknologi tepat guna untuk mengolah kini tidak beroperasi.
Ya, tidak beroperasinya mesin-mesin pengolah sampah jadi briket ini sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu. Meski tidak beroperasi, masih ada beberapa karyawan yang masuk, untuk sekadar membersihkan pabrik.
“Sudah tiga bulan lebih, mesin-mesin ini tidak beroperasi,” kata Arif Rahman, salah satu karyawan saat ditemui awak media di pabrik yang berlokasi di TPA Mrican, Kamis (7/4/2022).
Menurut informasi yang diterima Arif, tidak beroperasinya alat-alat pengolah sampah jadi briket ini, karena masih dicarikan mesin yang lebih baik lagi.
“Mesinnya belum lengkap, masih dicarikan yang lebih baik,” ungkapnya.
Arif menceritakan bahwa produksi briket di TPA Mrican ini sudah mulai sejak bulan Juli tahun lalu. Ada 12 karyawan yang bekerja di produksi briket dengan gaji bulanan.
“Harapan saya ya pembuatan briket ini bisa beroperasi kembali,” katanya.
Sementara itu kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo Seni irit bicara saat ditanya awak media terkait berhentinya pengolahan sampah menjadi briket di TPA Mrican. Dia berdalih bahwa saat menjabat sebagai kepala DLH pada Maret lalu, alat mesin briket sudah berhenti berproduksi.
“Belum ada MoU baru dengan pihak yang punya mesin. Jadi kita nunggu MoU itu,” pungkasnya.
Untuk diketahui, pada bulan November tahun lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali meninjau pengolahan sampah di TPA Mrican di Kecamatan Jenangan Ponorogo.
Pengolahan sampah jadi briket ini, kata Khofifah merupakan format renewable energy atau energi yang baru. Dimana nantinya dapat mensubstitusi batubara. Tidak sampai disitu, Khofifah juga takjub dengan teknologi yang digunakan untuk mengolah sampah ini. Yakni teknologi yang sederhana buatan dari SMK di Ponorogo.
“Saya berterimakasih, inovasi yang luar biasa. Bupati menginisiasi dan SMK mensuport-nya,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Menurut informasi dari bupati, Khofifah menyebut jika market briket ini masih terbuka dan luar biasa. Sudah kirim ke Pasuruan, Gresik dan Kediri untuk bahan bakar industri. Harganya pun masih terjangkau, yakni untuk 1 ton dihargai dengan Rp 700 ribu. Ketika sampah biasanya menjadi problem, dengan teknologi sederhana bisa memberikan solusi bagi penumpukan sampah.
“Tadi saya tanya bioksinnya dibawah ambang batas, tentu ini lebih sehat. Saya harap kabupaten/kota di Jatim kirim tim ke Ponorogo. Insyallah ini akan menjadi solusi efektif dan strategis,” katanya.
Ketika dunia ingin menurunkan emisi, di Ponorogo sudah membantu menurunkannya. Berarti kebutuhan terhadap bahan bakar batubara juga akan tereduksi. Kalau masing-masing kabupaten/kota di Jatim menyiapkan yang seperti ini, Ia yakin Jatim akan menjadi pioner penurunan emisi di Indonesia. [end/but]






