Surabaya (beritajatim.com) – Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso merupakan kepala Polri ke-5 teladan sepanjang masa. Hoegeng Imam Santoso merupakan seorang pria yang lahir di Pekalongan Jawa Tengah tepatnya pada 14 Oktober 1921.
Pada masa Orde Baru masa jabatan 1968-1971 Hoegeng adalah seorang Polisi yang berpangkat Jenderal Polisi (Purn). Sebagai polisi Hoegeng memiliki watak kepribadian tegas, bersih, dan jujur serta profesional selama menjalankan tugasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”polri”]
Sebagai Kapolri, jenderal polisi Hoegeng memiliki beberapa pemikiran dan kebijakan yang perlu diingat. Salah satunya adalah agar fungsi polisi dan ABRI terpisah dan melakukan tugasnya sesuai korpsnya masing-masing. Pada kala itu, Jenderal polisi Hoegeng mulai menugaskan dan menjalankan fungsi polisi dengan melacak dan menindak pihak pemerintah yang melakukan tindak pidana seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merugikan pemerintah dan masyarakat.
Saat menjadi Kapolri Hoegeng Iman Santoso juga melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang dirubah Hoegeng menjadi lebih dinamis juga komunikatif. Pada masa jabatannya terjadi perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dari hal tersebut, Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabes Pol).
Perubahan tersebut berimplikasi pada sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol.
Di bawah kepemimpinan Hoegeng ini pula peran serta Polri memiliki peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol yang diadakan di Jakarta.
Profesionalisme Hoegeng sebagai Kapolri pada masa Orde Baru dihadapkan dengan kisruh Orde Baru. Sebagaimana yang telah kita ketahui pada masa ini KKN sangat merajalela di kalangan pemerintahan tidak terkecuali kepolisian.
Pada masa kepemimpinan Hoegeng kepolisian dituntut untuk berperilaku jujur bersih dan konsisten dalam menjalankan tugas, penegakan hukum, memperbaiki situasi dan kondisi serta citra jatidiri polisi dimata masyarakat.
Karena konsistensinya dalam melakukan kejujuran saat menjadi Kapolri dilansir dari hari kompas.com bahwa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pernah mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk Kepala Kepolisian RI Jenderal Hoegeng di tahun 2020. Ganjar menyebut bahwa secara resmi, surat pengusulan Jenderal Hoegeng agar tokoh tersebut diangkat sebagai pahlawan nasional bersama dua pahlawan lain yang juga berasal dari Jawa Tengah yaitu dr Kariadi dan Pro Segarda.
Kesaksian Ganjar sebagai gubernur menyebutkan jika Kejujuran kesetiaan Pak Hoegeng terhadap negara dan kemanusiaan harus jadi lecutan untuk generasi penerus. Jenderal Hoegeng harus berpulang 14 Juli 2004, Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso berpulang di usia 83 tahun. Kenangan akan sosok Hoegeng lekat di masyarakat sebagai pejabat yang tegas, jujur dan berintegritas. [dan/bjo]






