Pamekasan (beritajatim.com) – Salah satu pebatik di kabupaten Pamekasan, Atidah (65) memiliki cara tersendiri memperkenalkan seni membatik bagi generasi muda, khususnya bersamaan dengan momentum Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat Coronavirus Disiase 2019.
Pebatik yang beralamat di Dusun Gunung 1, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan ini mengajarkan teknik membatik kepada anak-anak usia dini sebagai upaya melestarikan budaya membatik yang memang menjadi salah satu ciri khas dari kabupaten Pamekasan.
“Kami sengaja melakukan ini supaya anak cucu kami bisa melestarikan budaya membatik, karena saat ini sudah sangat jarang orang tua yang mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai budaya membatik,” kata Atidah, Rabu (11/8/2021).
Terlebih saat ini bersamaan dengan pandemi Covid-19, di mana juga mengharuskan anak-anak sekolah harus melaksanakan proses pembelajaran dari rumah. Sehingga mereka harus bersentuhan langsung dengan teknologi (pembelajaran daring) yang justru memudarkan minat generasi muda untuk mencintai batik.
“Faktor kecanggihan teknologi dan kurangnya minat generasi muda terhadap budaya membatik, menjadi salah satu penyebab mereka kurang semangat untuk membatik. Sehingga pada masa seperti (PPKM) ini, kami berinisiatif memberikan pelajaran membatik kepada anak cucu kami agar mencintai budaya membatik sejak dini,” ungkapnya.
Masa PPKM maupun pembelajaran daring atau online yang diterapkan sekolah, justru membuat anak-anak lebih sering di rumah. “Hal ini kita manfaatkan untuk memberikan pelajaran budaya membatik kepada anak cucu kami, sehingga kedepannya mereka paham apa itu batik dan bagaimana proses pembuatan batik,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”batik-pamekasan”]
Budaya membatik juga menjadi bagian dari kegiatan ekstra kurikuler di lembaga pendidikan dasar demi memotivasi siswa agar selalu mencintai batik sejak dini. “Seandainya membatik menjadi pelajaran ekstra di sekolah, seperti pramuka dan lainnya. Tentunya dapat memotivasi anak-anak untuk mencintai batik,” jabarnya.
“Dengan (menjadikan program membatik sebagai pelajaran ekstra) itu, kami yakin kecintaan anak-anak terhadap batik yang merupakan peninggalan nenek moyang kita tetap terjaga dan tidak hilang. Apalagi anak-anak sekarang sekolahnya (belajarnya) langsung ke internet (google dan youtobe),” pungkasnya. [pin/suf]






