Jember (beritajatim.com) – Penanganan pandemi Covid-19 menjadi prioritas pertama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, 2021-2026.
Selain pandemi, ada tujuh permasalahan lain yang diteropong dalam Ranwal RPJMD Jember, yakni pertumbuhan ekonomi; kemiskinan dan pengangguran; ketimpangan pendapatan; pembangunan manusia; angka kematian ibu, angka kematian balita, dan gizi buruk; risiko bencana; dan kinerja pemerintahan.
Namun wajar jika penanganan pandemi menjadi prioritas pertama, mengingat pandemi pada 2020 mengakibatkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jember atas dasar harga berlaku (ADHB) mengalami penurunan. Tahun 2019, PDRB ADHB Jember Rp 54,200 triliun. Sementara pada 2020, Rp 52,586 triliun.
“Ini satu napas dengan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RPJMD Provinsi Jawa Timur,” kata Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi, usai rapat pembahasan Rancangan Awal (Ranwal) RPJMD, di gedung parlemen, Senin (9/8/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”rpjmd-jember”]
Pertumbuhan PDRB Kabupaten Jember pada 2016- 2019 menunjukkan tingkat pertumbuhan rata-rata 5,2 persen. Akibat pandemi, pertumbuhan PDRB Kabupaten Jember terkontraksi sebesar 2,98 persen.
Dari 17 sektor lapangan usaha, 11 sektor mengalami penurunan. Sementara sisanya meningkat namun akumulasi sektor yang mengalami penurunan lebih besar dibandingkan dengan sektor yang mengalami peningkatan. Pandemi membuat kinerja sektor-sektor sekunder dan tersier seperti sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, dan sektor konstruksi mengalami penurunan. [wir/ted]






