Namanya Thomas Kipkorir Maritim. Tujuannya sederhana. Dia menempuh perjalanan 8.150 kilometer dari Ibu Kota Kenya Nairobi ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk memanen medali dan uang Rp 4 juta dari perlombaan lari sepuluh kilometer, Minggu, 19 Juli 2026.
Ini bukan satu-satunya perlombaan lari yang diikuti Maritim. Sebelumnya, dia sudah mengikuti perlombaan lari maraton di Malaysia. Dia memang pemburu hadiah lomba lari maraton internasional.
Maritim tiba di Jember sendirian, 17 Juli 2026. Dia percaya diri bisa merebut hadiah uang kali ini, dan memang benar, dia berhasil memenangi perlombaan lari tersebut. Namun kesialan terjadi di sini. Panitia tidak mengakui kemenangannya, karena hadiah uang diperuntukkan warga negara Indonesia.
Maritim panik. Dompetnya menipis. Dia berencana menggunakan sebagian uang hadiah itu untuk kembali ke Kenya.
Pria kelahiran 9 September 1984 itu mencoba memprotes ke panitia. Namun keterbatasannya bebahasa Indonesia dan keterbatasan panitia lokal berbahasa Inggris membuat komunikasi buntu, sehingga harus diselesaikan di kantor Kepolisian Sektor Kaliwates.
Hasilnya tetap saja, Maritim tak bisa memperoleh hadiah uang itu. Mendadak dia merasa kesepian seperti lagu Iron Maiden berjudul The Loneliness of the Long Distance Runner yang bercerita soal pelari maraton: But the miles, they never seem to end // As if you’re in a dream, not getting anywhere // It seems so futile.
Rupanya perdebatan antara Maritim dengan panitia di depan polisi menarik perhatian Enos Arif Wawanda. Pria berusia 33 tahun itu sebetulnya ke kantor polsek untuk melaporkan mobilnya yang penyok gara-gara terkena besi pembatas lomba lari itu. Namun melihat wajah putus asa Maritim, dia jatuh iba.
Enos mendekati Maritim yang duduk di depan kantor polsek. “Habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya kepada Maritim.
“Saya harus ke Hotel Lestari buat check out. Setelah itu saya tidak tahu mau ke mana,” kata Maritim. Dompetnya tipis, tak ada cukup uang untuk menempuh perjalanan jauh.
Awalnya Enos ingin membantu Maritim untuk berangkat ke Jakarta dengan bus. “Cuma sampai di Jakarta dia mau ngapain. Akhirnya saya bawa dia ke rumah saya dulu,” katanya.
Dari rumah Enos di Desa Petung, Kecamatan Rambipuji, Maritim menghubungi saudara perempuannya yang mengikuti lomba lari maraton di Pekanbaru, Riau. Mereka sepakat untuk bertemu di Jakarta.
Keesokan harinya, Nanda Puspita, adik Enos, menghubungi Indi Naidha, anggota DPRD Jember dari Fraksi PDI Perjuangan. Indi kemudian meminta salah satu temannya, Riana, untuk menjadi penerjemah saat Maritim berkomunikasi dengan warga di Jember.
Di Kafe Navas, Senin malam, 20 Juli 2026, Nanda dan Enos bertemu dua pengurus Dewan Pimpinan Cabang PDIP Jember, Martin Rachmanto dan Ayu Fitiriananda, untuk membicarakan nasib Maritim.
Di sela-sela menyeruput kopi dan menggigit kudapan, mereka sepakat membantu Maritim agar bisa ke Jakarta. Ayu merogoh kocek untuk membelikan tiket sleeper bus dan memberikan uang saku untuk Maritim.
Nanda semdiri berusaha menghubungi panitia via pesan WhatsApp. “Panitia menjelaskan masalah sudah clear. Mereka sudah menjelaskan peraturan dan ketentuan event Jember10 kepada Thomas, termasuk memberikan informasi yang ada Instagram penyelenggara,” katanya.
Beritajatim.com mencoba meminta konfirmasi kepada Nico, ketua panitia penyelenggara. Namun pesan WhatsApp Beritajatim.com belum dibalas hingga berita ini ditulis.
Nanda menilai kesalahpahaman ini seharusnya bisa diselesaikan melalui komunikasi yang baik. “Informasi sekecil apapun seharusnya disampaikan panitia sejelas-jelasnya,” katanya.
Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto yang membidangi olahraga dan pariwisata meminta persoalan seperti itu tak terulang. “Kejadian ini mencoreng nama baik Jember sebagai masyarakat yang ramah, humanis, dan religius,” katanya.
Candra meminta Dinas Kepemudaan Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Jember untuk memantau dan mencermati penyelenggaraan kegiatan serupa. ia menilai kejadian itu bisa mengganggu upaya Bupati Muhammad Fawait untuk menjadikan kegiatan olahraga dan pariwisata sebagai ujung tombak capaian pendapatan asli daerah. [wir/but]






