Sidoarjo (beritajatim.com) – Civitas akademika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggandeng Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Kedungcangkring menggelar program pengabdian masyarakat.
Dosen dari Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa memberi pendampingan intensif mengenai pengembangan bahan ajar Bahasa Inggris berbasis Artificial Intelligence (AI) dan teknik storytelling.
Pelatihan yang dipusatkan di Aula MINU Kedungcangkring pada Sabtu (18/7/2026) kemarin ini diikuti oleh puluhan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.
Kepala MINU Kedungcangkring, Dra. Asrifatus Sholihah, M.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kepercayaan yang diberikan Unesa kepada madrasahnya sebagai pusat pergerakan mutu guru. Menurutnya, kesiapan guru MI dalam menyambut regulasi baru terkait pengajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar harus digodok sejak dini agar tidak gagap saat kurikulum baru resmi bergulir.
”Kami sangat mengapresiasi Unesa yang memberi mandat kepada MINU Kedungcangkring untuk melaksanakan program krusial ini. Kegiatan ini sangat penting untuk membantu para guru di MI menghadapi tantangan zaman. Kami berharap kegiatan serupa bisa diadakan secara berkala karena sangat nyata membantu meningkatkan profesionalisme para guru di lapangan,” ujar Asrifatus Sholihah.
Ketua Program Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus dosen Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unesa, Abdur Rosyid, M.TESOL, membeberkan bahwa transformasi digital lewat AI tidak boleh ditakuti, melainkan harus dijinakkan sebagai instrumen pendukung pembelajaran. Kendati demikian, ia mengingatkan agar guru tidak terlena dengan kepraktisan teknologi digital.
”AI itu hanya alat bantu. Perkembangan AI yang begitu pesat sebenarnya membuka peluang lebar bagi guru MI untuk mengembangkan bahan ajar yang jauh lebih kreatif dan efisien. Melalui pendampingan ini, para guru diharapkan mampu memanfaatkan AI secara tepat untuk menghasilkan materi pembelajaran yang berkualitas, berkarakter, serta tetap mengusung nilai-nilai luhur,” tegas Abdur Rosyid di hadapan peserta.
Lebih lanjut, Rosyid menambahkan bahwa secanggih apa pun teknologi AI, ruh utama dari pendidikan karakter anak usia dini tetap berada di tangan pendidik. “Pada akhirnya, kualitas pembelajaran di dalam kelas sangat bergantung pada kompetensi dan kepekaan rasa guru dalam merancang pengalaman belajar bagi peserta didik,” tambahnya.
Selama workshop berlangsung, suasana kelas berjalan interaktif dan dinamis. Para peserta dibekali materi yang komprehensif, mulai dari penyamaan persepsi mengenai peta jalan kebijakan pengajaran Bahasa Inggris sekolah dasar, konsep kurikulum pembelajaran ramah anak, metodologi berbasis teks dan multimodal, hingga praktik langsung merancang storybook digital berbantuan AI.
Antusiasme peserta juga terasa saat sesi refleksi dan simulasi pembuatan media ajar. Sebagian besar guru MI merumuskan rencana aksi matang untuk menyusun buku cerita berbahasa Inggris interaktif yang relevan dengan minat psikologis murid-muridnya.
Salah satu guru peserta pelatihan menuturkan, materi ini menjadi oase di tengah kebingungan guru MI dalam merancang metode belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi anak-anak.
”Saya akan langsung mempraktikkan penggunaan AI ini untuk membuat cerita pemantik berdasarkan studi kasus nyata di lingkungan sekitar. Cerita itu akan saya gunakan sebagai bahan pembelajaran berbasis masalah atau Problem-Based Learning di awal sesi kelas minggu depan,” ungkap guru tersebut penuh semangat.
Untuk memastikan pendampingan ini berdampak luas dan valid secara akademis, Unesa menerjunkan tim ahli gabungan yang terdiri dari Abdur Rosyid, M.TESOL selaku ketua pelaksana, bersama jajaran dosen kompeten yakni Sueb, S.Pd., M.Pd., Dr. Arik Susanti, M.Pd., dan Asrori, S.S., M.Pd.
Tak hanya itu, kolaborasi lintas kampus juga diperkuat dengan menggandeng mitra akademis eksternal, yaitu Layli Hidayah, S.Pd., M.Pd., dosen bidang evaluasi pendidikan dasar dari FKIP Universitas Islam Malang (Unisma), serta Dr. Dwi Agus Setiawan, pakar cerita anak dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).
“Lewat sinergi multisektor ini, Unesa menegaskan komitmen panjangnya dalam mendukung pemenuhan target Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yakni Pendidikan Berkualitas. Penguatan kompetensi pedagogis guru MI di Jabon Sidoarjo ini diharapkan menciptakan pembelajaran yang inovatif, berdampak, dan berkelanjutan, serta adaptif terhadap dinamika era global,” kata Abdur Rosyid, M.TESOL, menutup. [dan/suf]






