Malang (beritajatim.com) – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng perguruan tinggi untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam tata kelola operasional Sekolah Rakyat (SR) serta sistem pemetaan bantuan sosial (bansos). Langkah ini dipaparkan dalam agenda “Demo Use Case AI Talent Factory (AITF) 2026” yang berlangsung di Auditorium Algoritma, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya (UB), Malang, Selasa (30/6/2026).
Rangkaian acara AITF juga menandai kelulusan sekaligus unjuk gigi inovasi digital para talenta muda dari Universitas Brawijaya (UB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Dalam implementasinya, platform AI yang dikembangkan para mahasiswa ditargetkan mampu mempermudah seluruh lini operasional Sekolah Rakyat, mulai dari hulu hingga hilir.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Sekjen Kemensos), Robben Rico, menyatakan kekagumannya terhadap purwarupa AI yang dipresentasikan para mahasiswa. Menurutnya, inovasi ini memberikan optimisme besar terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) digital Indonesia yang mampu menjawab tantangan riil pemerintah di lapangan.
“Hari ini tadi kita melihat anak-anak kita mempresentasikan sesuatu yang menurut saya cukup luar biasa. Kita makin optimis terhadap SDM kita yang sebetulnya tinggal dikolaborasikan bersama. Terima kasih kepada teman-teman di Komdigi, UB, ITS, dan UGM yang sudah mendukung program ini, sehingga melahirkan terobosan luar biasa berbasis kecerdasan buatan,” ujar Robben Rico saat ditemui beritajatim.com.
Robben mencontohkan salah satu fungsi konkret AI yang dikembangkan untuk Sekolah Rakyat adalah membantu tenaga pendidik dalam menyusun instrumen akademis secara otomatis dan cepat.
“Tadi salah satu contohnya dibuatkan program yang bisa membantu guru menyusun kurikulum, proses pembelajaran, sampai membuat soal untuk pre-test dan post-test. Artinya, teknologi ini mempermudah kerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan (tendik) untuk menyiapkan anak-anak dalam proses belajar mengajar dengan lebih baik,” imbuhnya.
Pemerintah tidak berniat membiarkan inovasi ini berhenti sebagai proyek akademis semata. Kemensos bersama para rektor dan pemangku kepentingan telah sepakat untuk langsung menguji coba dan menerapkan aplikasi AI ini di ratusan unit Sekolah Rakyat yang siap beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027.
“Sebanyak 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia ditargetkan memiliki Sekolah Rakyat yang beroperasi penuh berbasis teknologi terintegrasi. Untuk memastikan kesiapan di lapangan, kami memiliki tiga komitmen utama yang akan segera dieksekusi oleh kementerian bersama mitra terkait,” ujar Robben.
Pertama, mahasiswa pengembang beserta dosen pembimbing akan melakukan asistensi langsung kepada 3.000 guru dan 5.000 tenaga kependidikan (tendik) agar tidak gagap teknologi. Proses ini berjalan di bawah pengawasan Badan Pengembangan SDM Komdigi.
Kedua, menempatkan para talenta muda pencipta sistem di 178 lokasi Sekolah Rakyat guna mengawal implementasi aplikasi secara langsung.
Ketiga, Kemensos memastikan kesiapan anggaran yang proporsional untuk mengubah prototipe tersebut menjadi aplikasi siap pakai berskala massal. Robben menyebut target tersebut dapat terealisasi pada akhir tahun ini.
“Insyaallah minggu depan kami akan lanjutkan diskusi dengan Komdigi, UB, ITS, dan UGM mengenai apa saja yang dibutuhkan. Mulai dari infrastruktur penunjang seperti server, mekanisme pelatihan, hingga modul ajar agar para guru paham seluruh SOP-nya,” tegas Robben.
Di samping kesiapan sistem digital, Kemensos turut melaporkan perkembangan signifikan terkait infrastruktur fisik Sekolah Rakyat. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 93 bangunan sekolah permanen telah rampung dibangun dan siap menyambut siswa baru pada pertengahan Juli mendatang.
“Gedung hari ini sudah berprogres, 93 Sekolah Rakyat permanen sudah dibangun. Insyaallah tuntas dan anak-anak bisa masuk pada 14 Juli awal tahun ajaran baru 2026/2027 di 93 lokasi tersebut. Total sampai tahun depan targetnya 200 bangunan permanen. Saat ini, tujuh sekolah sedang lelang ulang, dan nanti Agustus atau September masuk lelang tahap ketiga untuk 100 sekolah lagi,” rinci Robben.
Program jaminan sosial edukasi ini juga diklaim membawa perubahan fundamental pada aspek kesehatan fisik dan mental para siswa. Berdasarkan survei internal terhadap orang tua murid setelah dua semester berjalan, asupan gizi yang teratur berupa makan tiga kali sehari dan camilan dua kali sehari berhasil mendongkrak berat badan anak-anak secara signifikan.
Tidak hanya fisik, perubahan karakter spiritual dan sosial anak juga menjadi sorotan. Banyak orang tua yang terharu karena anak-anak mereka kini memiliki kedisiplinan tinggi, mandiri dalam beribadah, lepas dari kecanduan gawai (gadget), serta menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada orang tua.
Saat ini, Kemensos mencatat telah mengamankan sekitar 3.600 kuota beasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, seperti Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga Kementerian Kesehatan. Kuota ini disiapkan untuk menampung lulusan angkatan pertama Sekolah Rakyat tingkat SMA yang berjumlah hampir 7.000 siswa agar mendapatkan akses pendidikan tinggi atau sertifikasi keterampilan kerja yang layak.
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Komdigi, Dr. Ir. Bonifasius Wahyu Pudjianto, M.Eng., menekankan bahwa program AI Talent Factory merupakan wadah nyata sinergi triple helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan dunia industri.
“Ini adalah program Kominfo (Komdigi) dengan beberapa perguruan tinggi. Masing-masing universitas memiliki use case atau problem spesifik yang harus dipecahkan. UB berfokus pada Sekolah Rakyat dan pemetaan bansos untuk Pemprov Jawa Timur. Sementara ITS dan UGM berfokus pada perlindungan anak di ruang digital serta media analitik untuk Dirjen KPPM,” jelas Bonifasius.
Bonifasius berharap para alumni program AITF memiliki nilai tawar tinggi saat terjun ke dunia industri karena portofolio yang mereka kerjakan didasarkan pada persoalan nyata di birokrasi dan masyarakat.
Senada dengan itu, Dekan FILKOM UB, Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menyatakan rasa bangganya terhadap ketahanan mental mahasiswa selama menyelesaikan proyek yang kompleks di bawah tekanan tenggat waktu yang ketat.
“Untuk Sekolah Rakyat saja ada enam tim, sedangkan untuk pemetaan kemiskinan ada empat tim. Selain mengasah technical hard skill, aspek soft skill seperti kerja sama, saling berbagi, dan saling mendukung di tengah pressure yang ketat berhasil mereka tunjukkan dengan luar biasa,” kata Tri Astoto.
Keberlanjutan masa depan para lulusan Sekolah Rakyat kini juga telah mendapat jaminan. Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengonfirmasi kesiapan UB untuk mengawal proses hilirisasi ini, termasuk mengalokasikan slot beasiswa bagi siswa berprestasi di setiap fakultas.
“Kami dari Universitas Brawijaya mengucapkan terima kasih atas dukungan Komdigi dan Kemensos. Hasil aktivitas anak-anak ini akan langsung diterapkan di lapangan. Harapannya, dengan AI ini, pemberian bantuan sosial dari pemerintah menjadi jauh lebih tepat sasaran, dan pembelajaran di Sekolah Rakyat berjalan lebih efektif serta efisien,” pungkas Prof. Widodo. (dan/kun)






