Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) Provinsi Jawa Timur menghadirkan sejumlah pakar untuk mempercepat peningkatan kompetensi ribuan anggotanya. Upaya ini difokuskan pada penguatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak di berbagai daerah.
Ketua PD IBI Jawa Timur Siti Maimunah memandang kehadiran para ahli sangat dibutuhkan untuk membuka wawasan tenaga kesehatan. Mereka dituntut agar terus menyesuaikan ilmu praktik dengan perkembangan medis terbaru.
“Peringatan 75 tahun IBI menjadi momentum memperkuat kompetensi, profesionalisme, serta semangat pengabdian,” terang Siti Maimunah dikutip Selasa (30/6/2026).
Ia menilai kesiapan tenaga kesehatan sangat menentukan nasib perbaikan gizi generasi mendatang. Pelayanan yang mumpuni akan menekan risiko sejak fase kehamilan.
“Langkah penguatan profesi ini kami lakukan untuk mendukung penuh terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” tegasnya.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Dwi Krisna Imawan turut membedah skema peningkatan mutu melalui Program Bidan Delima. Kebijakan ini menuntut praktisi agar lebih berdaya saing dalam menangani pasien.
“Program ini dirancang agar tenaga medis mampu menjalankan praktik kebidanan secara lebih mandiri dan profesional,” papar Dwi Krisna.
Menurutnya, standardisasi fasilitas layanan kebidanan harus terus diperbarui. Masyarakat berhak mendapatkan jaminan akses pengobatan serta konsultasi kandungan yang benar-benar layak.
“Kemandirian serta daya saing yang tinggi menjadi penentu keberhasilan perbaikan standar mutu layanan di lapangan,” jelasnya.
Selain keahlian medis, Pakar Komunikasi Publik Nur Cita Qomariyah menekankan perlunya membangun citra positif di era modern. Tenaga medis diminta aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi masyarakat.
“Pemanfaatan media sosial dengan tepat akan memperkuat kepercayaan publik terhadap profesi yang kita jalani,” ungkap Cita.
Ia meyakini adaptasi teknologi akan mempercepat penyebaran informasi kesehatan ke pelosok. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif untuk meredam berbagai informasi keliru terkait perawatan anak.
“Kita harus mampu membangun citra yang baik sekaligus menjadi agen edukasi kesehatan di dunia maya,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IBI Ade Jubaedah menegaskan bahwa bidan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Mari terus meningkatkan kompetensi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan inovasi pelayanan yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, sinergi seluruh pihak diyakini akan mempercepat perbaikan sistem kesehatan nasional. [ipl/kun]






