Ringkasan Berita:
- Sleep apnea menjadi gangguan tidur yang sering tidak disadari masyarakat karena dianggap sekadar ngorok.
- Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan memicu berbagai penyakit serius.
- PRAMITA Surabaya menyediakan pemeriksaan Polysonografi untuk mendeteksi tingkat keparahan sleep apnea.
- Gejala sleep apnea antara lain ngorok keras, mudah mengantuk, hingga henti napas saat tidur.
Surabaya (beritajatim.com) – Sleep apnea menjadi salah satu gangguan tidur yang masih sering diabaikan masyarakat, padahal kondisi ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan tubuh. Gangguan tersebut umumnya ditandai dengan kebiasaan mendengkur keras atau ngorok hingga henti napas berulang saat tidur.
Akibat gangguan tersebut, kualitas istirahat penderita menurun dan tubuh mengalami kekurangan oksigen selama tidur.
Perwakilan PRAMITA Surabaya, Andini Ekawati, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami bahaya sleep apnea karena gejalanya sering dianggap biasa.
“Orang sering tidak tahu sleep apnea itu apa. Tapi biasanya sadar kalau dirinya ngorok. Padahal pasien sleep apnea umumnya mengalami dengkuran keras, bangun tidur tidak segar, mudah mengantuk, bahkan pusing saat pagi hari,” ujar Andini saat ditemui di PRAMITA Ngagel Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, kebiasaan ngorok sebenarnya bisa menjadi tanda adanya gangguan pernapasan saat tidur. Penderita sleep apnea sering merasa sudah tidur cukup lama, tetapi kualitas tidurnya buruk sehingga tubuh tetap terasa lelah ketika beraktivitas.
Akibatnya, penderita mudah mengantuk pada pagi hingga siang hari meski baru memulai aktivitas.
Meski kerap dianggap sepele, kebiasaan mendengkur yang terjadi terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan. Mengenali gejala sleep apnea sejak dini dinilai penting untuk mencegah risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
Andini menjelaskan, sleep apnea dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, stroke, diabetes, hingga gangguan jantung. Risiko tersebut tidak hanya dialami oleh orang dengan berat badan berlebih, tetapi juga individu yang memiliki struktur saluran napas sempit.
Untuk membantu mendeteksi gangguan tersebut, PRAMITA Surabaya menyediakan pemeriksaan menggunakan alat Sleep Diagnostic Test melalui metode polysonografi.
Pemeriksaan dilakukan dengan memasang alat khusus saat pasien tidur guna memantau pola pernapasan, kadar oksigen, detak jantung, hingga frekuensi henti napas yang terjadi selama malam hari.
“Pemeriksaan dilakukan agar tingkat keparahan sleep apnea bisa diketahui sehingga penanganannya lebih tepat,” jelas Andini.
Beberapa gejala sleep apnea yang perlu diwaspadai antara lain dengkuran keras saat tidur atau ngorok terus-menerus, bangun tidur terasa tidak segar, tubuh tetap lelah, mudah mengantuk di pagi atau siang hari, sering pusing setelah bangun tidur, hingga henti napas berulang saat tidur tanpa disadari.
Masyarakat diimbau segera melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala tersebut secara berulang agar kualitas tidur tetap terjaga dan risiko komplikasi kesehatan dapat dicegah sejak dini. [way/beq]






