Surabaya (beritajatim.com) — Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali memperkuat perannya dalam pembangunan ekosistem perkotaan berbasis lingkungan berkelanjutan melalui program International Joint Community Service. Kegiatan internasional yang digawangi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya tersebut berlangsung di Kampung Kawak Maspati, lingkungan RW 5, Kelurahan Bubutan, Surabaya, Senin (18/5/2026).
Berkolaborasi dengan Kasetsart University, program ini mengangkat tajuk Pendampingan Sirkularitas Ekosistem Kota: Pemanfaatan Biokonversi BSF dan Manajemen Air Lahan Basah untuk Mendukung Sistem Urban Farming.
Sinergi lintas negara tersebut bertujuan mengedukasi sekaligus menggerakkan kemandirian ekonomi warga melalui tata kelola lingkungan yang terintegrasi.
Dalam pelaksanaannya, tim dari Kasetsart University membagikan perspektif global mengenai konsep sirkularitas ekonomi di tingkat lokal. Asst. Prof. Samonporn Sutibak, Ph.D. bersama Asst. Prof. Dr. Rathanit Sukhanapirat memaparkan strategi mengubah sampah menjadi sumber pendapatan kampung melalui sistem daur ulang berbasis kemitraan masyarakat yang melibatkan unsur triple-helix, yakni pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra strategis.
Menurut mereka, sampah domestik, khususnya sampah organik dan sisa dapur, memiliki potensi ekonomi tinggi apabila dikelola secara tepat, salah satunya melalui budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF).
Sejalan dengan hal itu, narasumber utama Untag Surabaya, Dr. Made Kastiawan, S.T., M.T., menekankan pentingnya efisiensi tata kelola sampah agar tidak membebani sistem pengelolaan di hilir kota.

Di hadapan warga RW 5 Maspati, ia menjelaskan siklus penanganan sampah idealnya dapat diselesaikan di tingkat lokal.
“Strategi pengolahan sampah di kampung seharusnya selesai di TPS, tidak perlu sampai ke TPA. Jadi, kampung-kampung di Surabaya harus mampu mengubah sampah tersebut menjadi produk-produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bahkan dapat menambah pendapatan kampung. Selain maggot, masyarakat dapat mengolahnya menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan urban farming,” paparnya.
Namun, menurutnya keberhasilan pengelolaan sampah tetap bermula dari tingkat rumah tangga.
“Namun demikian, keberhasilan pengolahan sampah dimulai dari hulunya, yaitu rumah tangga. Kesadaran memilah sampah di tingkat rumah tangga menjadi faktor kunci yang diperhitungkan,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Untag Surabaya menyerahkan bantuan stimulan berupa dua unit rumah budidaya maggot serta seperangkat alat press plastik. Penyerahan bantuan tersebut juga disertai demonstrasi pengolahan sampah menggunakan maggot yang dipandu tim akademisi Untag Surabaya lintas disiplin, yakni Dr. Jaka Purnama, S.T., M.T., Prof. Dr. Erni Pupanantasari P., Ph.D., Ir. Aris Heri Andriawan, S.T., M.T., Dr. M. Roisul Basyar, S.AP., M.KP., Dr. Tomy Michael, S.H., M.H., Dr. Ernyata Herlin Setyorini, S.H., M.H., Prof. Dr. Slamet Suhartono, S.H., M.H., Dr. Ditan Evita Santi, S.Psi., M.Psi., serta Yusrida Muslihah, S.Kom., M.Kom.
Sementara itu, Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., menjelaskan kegiatan di lingkungan RW 5 Maspati merupakan bagian dari peta jalan pengabdian masyarakat yang dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan.
“Untag Surabaya berperan aktif dan selalu siap berkontribusi dalam pengelolaan Kota Surabaya. Untag Surabaya telah melakukan berbagai macam pendampingan pada masyarakat Kota Surabaya, mulai dari Pendampingan Kampung Proklim, pendampingan SOTH dan Kemangi, dan yang terbaru ini adalah pendampingan Kampung Pancasila. Kegiatan di Kampung Kawak Maspati ini merupakan lanjutan dari kegiatan pendampingan Kampung Pancasila,” ujar Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA.
Untuk mendukung penguatan program tersebut, Untag Surabaya juga mengintegrasikan kegiatan dengan program akademik mahasiswa.
“Untag Surabaya juga telah menerjunkan 27 mahasiswa di Kelurahan Bubutan untuk pendampingan Kampung Pancasila dari 329 mahasiswa yang diterjunkan di Surabaya,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi internasional ini, Kampung Kawak Maspati diharapkan menjadi pelopor kampung mandiri yang mampu mengadopsi sistem sirkularitas perkotaan modern secara berkelanjutan. [but]






