Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menegaskan komitmen membangun ekosistem pendidikan yang inovatif dan humanis.
Langkah ini diwujudkan lewat sinergi antarlembaga untuk menghadapi tantangan kecerdasan buatan.
Komitmen tersebut terlihat dari kehadiran Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat PhD, dalam forum Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Meet Up 2026. Acara ini berlangsung di Hotel Bumi Surabaya, Sabtu (16/5/2026).
Supangat memandang pendidikan masa kini harus mengarah pada pendekatan kolaboratif. Menurutnya, konsep pendidikan modern menuntut pembangunan relasi serta karakter peserta didik secara utuh.
“Pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga proses membangun manusia, relasi, pengalaman, dan nilai kehidupan,” ujar Supangat.
Ia menyoroti tanggung jawab kampus dalam merespons perkembangan teknologi yang serba cepat. Institusi pendidikan dituntut mencetak individu yang adaptif, kreatif, dan peka terhadap lingkungan sekitar.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati,” tambahnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pendidikan SAIM, Aziz Badiansyah, menekankan kelincahan karakter peserta didik. Nilai kemanusiaan harus tetap dipertahankan di tengah arus kemajuan zaman.
“Pendidikan harus mampu membentuk anak-anak yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter,” kata Aziz.
Aziz menyadari bahwa dunia terus mengalami perubahan secara dinamis. Kondisi tersebut menuntut ekosistem pendidikan untuk terus mendampingi anak dalam melakukan penyesuaian diri.
“Anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menghadapi tantangan masa depan,” tuturnya.
Pertemuan ini mempertegas langkah Kampus Merah Putih dalam memperkuat jejaring. Kolaborasi ini memastikan ekosistem pembelajaran terus relevan bagi masa depan generasi muda. [ipl/ted]






