Surabaya (beritajatim.com) – Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan alat pemanjat pohon kelapa bernama Moto Climber ITS (Mocits). Inovasi ini hadir untuk menekan tingginya risiko keselamatan para penderes.
“Perancangan alat ini lahir dari kebutuhan riil di lapangan. Harapannya bisa mendongkrak hasil panen kelapa di Tanah Air,” kata dosen Departemen Teknologi Kedokteran ITS, Achmad Syaifudin, dikutip Jumat (3/7/2026).
Mesin pertanian ini dirakit melalui proses riset cepat atas permintaan langsung Kementerian Pertanian (Kementan). Tim pembuat merakit tiga versi prototipe sebelum menemukan racikan paling ideal.
“Versi optimasi terbaru ini kami kerjakan setelah mewawancarai langsung para penderes. Model terakhir ini sudah lolos uji coba di perkebunan Lumajang,” terang Syaifudin.
Perangkat versi Alpha ini membawa sistem pengereman ganda. Secara otomatis, mekanisme rem akan langsung mengunci erat pada batang pohon saat tuas gas dilepas.
“Cara pakainya sangat gampang. Waktu mau naik tinggal tarik gas sambil tekan rem. Pas turun tinggal lepas gas lalu tahan rem pelan-pelan,” urainya.
Proteksi ekstra juga tersedia lewat sabuk pengaman serta tali pengikat kejut pada bodi mesin. Konstruksi ini menjaga posisi operator meski rem tangan tidak sengaja terlepas.
“Setiap sudut rancangan kami buat ergonomis. Penggeraknya sengaja memakai rantai supaya perawatannya lebih gampang dikerjakan oleh warga desa,” imbuh Syaifudin.
Kesederhanaan teknis Mocits mendapat sambutan positif dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur. Konsep rancangannya terbilang pas dengan kapasitas teknis petani daerah.
“Rancangannya tidak rumit. Pendekatan semacam ini sangat membumi dan sesuai profil para penderes yang menjadi target sasaran,” papar perwakilan lembaga, Ismatul Hidayah.
[irp posts=”1524574″ ]
Mesin panjat kelapa ini dikonsep sebagai solusi pengganti cara tradisional. Praktik penderesan manual terbukti rawan kecelakaan kerja serta menguras banyak stamina.
“Fokusnya mempermudah rutinitas kerja harian petani. Kalau kita bandingkan dengan cara manual, alat ini jelas lebih aman dan gampang diaplikasikan,” tutur Ismatul.
Proses uji coba lapang melibatkan kelompok tani wilayah Lumajang. Uji jalan membuktikan alat pendakian ini mampu menuntaskan keluhan beratnya medan kerja perkebunan.
“Mesin buatan kampus ini memang terasa jauh lebih efisien. Sangat meringankan beban kerja kami dibanding harus memanjat tinggi dengan tangan kosong,” ungkap petani lokal, Muhammad Basiran.
Peralatan pertanian inovatif ini mulai diproduksi bersama pihak swasta. Akses pembelian segera didistribusikan melalui jalur katalog elektronik agar mudah dijangkau pemerintah daerah.
“Metode pengoperasiannya gampang sekali. Orang awam dan petani biasa seperti saya bisa langsung paham cara pakainya setelah sebentar mencoba,” pungkas Basiran. [ipl/aje]






