Jakarta (beritajatim.com) – April 2026 menjadi bulan yang sarat kegelisahan. Ancaman krisis energi global kian terasa setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Dampaknya menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, yang mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Sejumlah negara seperti Filipina dan Bangladesh bahkan telah menetapkan status darurat energi. Sementara itu, Korea mulai mendorong warganya untuk menghemat penggunaan energi sehari-hari. Di dalam negeri, penyesuaian tarif BBM sejak 18 April menjadi sinyal bahwa tekanan global tak bisa dihindari.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat. Namun, ia mengingatkan bahwa ancaman utama bukan semata kenaikan harga, melainkan potensi terganggunya pasokan energi.
“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan,” jelasnya.
Di tengah bayang-bayang krisis itu, muncul pemandangan yang perlahan kembali akrab di jalanan kota—sepeda. Dari sekadar satu-dua orang, kini jumlahnya kian bertambah, terutama menjelang jam berangkat kerja.
Bagi sebagian masyarakat, bersepeda bukan hanya pilihan gaya hidup, tetapi juga strategi bertahan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, penghematan menjadi kebutuhan.
Moda transportasi umum memang menjadi alternatif, tetapi sepeda menawarkan solusi yang lebih fleksibel—terutama untuk perjalanan jarak pendek di bawah lima kilometer.
Beberapa pemerintah daerah bahkan mulai mendorong perubahan ini. Aparatur Sipil Negara (ASN) di sejumlah wilayah diminta bersepeda ke kantor sebagai bagian dari upaya penghematan energi.
Bupati Bangkalan Lukman Hakim melihat fenomena ini sebagai momentum penting. “Akan kami dorong menjadi budaya kerja yang melekat,” tegasnya.
Fenomena ini mengingatkan pada masa pandemi, ketika tren bersepeda sempat mencapai puncaknya. Namun, seiring waktu, antusiasme itu meredup. Kini, krisis energi justru membuka peluang untuk menghidupkannya kembali—dengan tujuan yang lebih besar.
Komunitas Bike to Work Indonesia (B2W) menjadi salah satu motor penggerak perubahan ini. Ketua umumnya, Stephanus Hendro Subroto, berharap tren ini tidak berhenti sebagai respons sesaat.
“Sejak lama, masalah di Indonesia tidak hanya krisis energi, tetapi juga polusi udara dan kemacetan. Besar harapan kami bahwa gerakan ini bukan sementara saja, tetapi bisa bertahan dan menurunkan ketergantungan kita pada kendaraan bermotor,” ujarnya.
Ia menambahkan, komunitasnya siap menjadi ruang pembelajaran bagi pesepeda baru. “Tentunya kami siap menjadi rumah untuk membimbing pesepeda-pesepeda muda agar terus bersepeda dengan aman,” pungkasnya.
Bagi pelaku bike to work seperti Dwi Julian, perubahan ini sudah lebih dulu ia jalani. Selama dua tahun terakhir, ia konsisten bersepeda ke kantor dan merasakan langsung manfaatnya.
“Memang tidak 100% lepas dari BBM, tetapi setidaknya bisa 90%,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa bersepeda tidak harus dimulai dari hal besar. Perjalanan sederhana seperti ke minimarket atau mencari sarapan di sekitar rumah sudah cukup memberikan dampak.
“Nggak perlu ekstrem, maksudnya harus wow sepedaan jauh-jauh, nggak. Mulai dari kita ke minimarket, cari sarapan di sekitar komplek pakai sepeda. Biasakan aja dulu,” katanya.
Seiring meningkatnya minat masyarakat, pertanyaan soal jenis sepeda yang tepat pun bermunculan. Di berbagai percakapan, nama Polygon kerap disebut sebagai salah satu pilihan.
Menurut Hendro, brand lokal tersebut dikenal memiliki kualitas yang teruji dengan harga yang relatif terjangkau. Pengalaman itu juga dirasakan Dwi, yang menggunakan seri Strattos untuk aktivitas hariannya.
“Sepeda saya Strattos S2, dan nyaman sekali untuk gowes ke kantor,” ujarnya.
Tak hanya sepeda konvensional, sepeda listrik juga mulai diminati. Seri seperti Kalosi Miles hingga Kalosi Lanes EVO menawarkan fitur pedal assist yang membantu pengguna menempuh jarak lebih jauh, bahkan hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Dari sebuah kebutuhan akibat krisis, bersepeda kini perlahan bertransformasi menjadi pilihan sadar—baik dari sisi efisiensi biaya, kesehatan, maupun keberlanjutan lingkungan.
Jika tren ini terus tumbuh dan didukung infrastruktur yang memadai, bukan tidak mungkin jalanan kota akan dipenuhi pesepeda di masa depan.
Di tengah ancaman krisis BBM, Indonesia tampaknya sedang menapaki jalur baru. Pertanyaannya, apakah ini sekadar fenomena sesaat—atau justru awal dari wajah baru mobilitas kota? (ted)






