Jember (beritajatim.com) – Angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
ICOR adalah salah satu indikator investasi yang bisa digunakan untuk evaluasi dan perencanaan pembangunan. Rasio ini bisa digunakan untuk menghitung jumlah uang yang harus diinvestasikan untuk mencapai target yang direncanakan, dengan membandingkan pertumbuhan ekonomi dengan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan tersebut.
Nilai ICOR pada 2025 tertinggi selama lima tahun terakhir, yakni 0,74. Berdasarkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati 2025, ICOR Jember cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun.
ICOR terendah pada 2021, yakni 0,1. Setahun berikutnya 0,44 dan kembali turun menjadi 0,21 pada 2023 dan 0,22 pada 2024.
Wahyu Prayudi Nugroho, anggota Panitia Khusus LKPJ Bupati DPRD Jember, mengatakan, semakin kecil nilai ICOR, semakin besar pula efisiensi produktivitas dari investasi yang ditanamkan. ICOR yang lebih rendah akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. Demikian sebaliknya.
LKPJ Bupati 2025 menyebutkan, kendati mengalami tren peningkatan, namun nilai ICOR pada periode 2021-2025 masih berada di bawah kisaran nilai 3, yang menunjukkan bahwa penggunaan modal di Kabupaten Jember berada pada tataran efisien.
Penghitungan angka ICOR sebesar 0,74 di tahun 2025 diperoleh dari nilai investasi yang mencapai Rp 2,57 triliun yang dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami peningkatan sebesar 70,2 persen dari nilai investasi Rp 1,51 triliun.
Peningkatan nilai investasi ini tidak diiringi dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang signifikan yaitu sebesar 5,47 persen, sehingga nilai ICOR kembali meningkat.
Nugroho meminta agar peningkatan ICOR pada 2025 ini menjadi perhatian bersama. “Artinya apa? Investasinya ini tidak efisien dibandingkan tahun 2024 kemarin. Nah, ini kan yang perlu kita cari sebab musababnya,” kata politisi yang menempuh pendidikan sarjana ekonomi di Shinshu University dan pendidikan master program bisnis internasional di University of Tsukuba, Jepang, ini.
Nugroho menduga konektivitas antara satu daerah dengan daerah lain di Jember yang kurang bagus menjadi penyebab tingginya ICOR. Dia berharap Dinas Perhubungan Jember mengambil langkah cepat dan progresif untuk memperbaiki konektivitas agar nilai ICOR membaik.
Sementara itu, LKPJ Bupati Jember 2025 menyebutkan sejumlah langkah yang diambil pemerintah daerah untuk menekan angka ICOR.
Pemkab Jember merumuskan dan menyusun kebijakan penanaman modal daerah dengan mengidentifikasi permasalahan investasi dengan menyediakan dokumen kebijakan tata ruang, dokumen kajian data potensi daerah, dokumen rencana umum pengelolaan lingkungan hidup, dokumen rencana induk kawasan industri, dan dokumen rencana umum pariwisata serta dokumen rencana pengelolaan kebencanaan daerah.
Pemkab Jember juga menguatkan sinergi dan kolaborasi kemitraan penanaman modal daerah, baik internal pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, dan asosiasi usaha melalui forum investasi. Rekomendasi kebijakan penanaman modal disusun melalui kegiatan coffee morning, forum grup diskusi, rapat kerja, dan rapat koordinasi penanaman modal daerah.
Pemkab Jember membentuk regulasi penanaman modal seperti Rancangan Peraturan Daerah Penanaman Modal dan Rancangan Peraturan Bupati tentang Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM), Dokumen Kajian Peta Potensi Investasi, Dokumen Kajian Peta Peluang Investasi, dan Dokumen Proposal IPRO (Investment Project to Offer).
Pemetaan kajian potensi daerah dilakukan untuk menetapkan potensi produk ekonomi unggulan daerah yang dapat diakselerasi menjadi produk investasi berkelanjutan dan khas daerah dengan memberdayakan potensi ekonomi masyarakat mikro-kecil.
Terakhir, Pemkab Jember menguatkan pelaporan kegiatan penanaman modal kepada pelaku usaha Jember melalui kegiatan Bimbingan Teknis LKPM dan pengawasan penanaman modal kepada pelaku usaha secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan. [wir/suf]






