Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah gaya hidup yang serba cepat, begadang sering dianggap hal biasa. Banyak orang melakukannya karena pekerjaan atau sekadar menikmati hiburan. Padahal, kebiasaan tidur terlalu larut bisa mengganggu ritme alami tubuh.
Dampaknya tidak hanya pada rasa kantuk atau mata panda, tetapi juga bisa memengaruhi metabolisme dan keseimbangan hormon.
Salah satu dampak yang sering terjadi adalah kenaikan berat badan yang sulit dikontrol. Begadang bisa mengganggu hormon lapar, yaitu ghrelin dan leptin. Akibatnya, rasa kenyang jadi berkurang dan nafsu makan meningkat. Kondisi ini membuat seseorang lebih ingin makan makanan manis atau tinggi kalori di malam hari, yang akhirnya menyebabkan penumpukan lemak.
Kebiasaan begadang juga dapat berdampak buruk pada kesehatan jantung. Tidur yang tidak teratur bisa meningkatkan tekanan darah dan membuat kerja jantung menjadi lebih berat. Jika terus berlangsung dalam jangka waktu lama, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Berdasarkan studi dalam Harvard Medical School, begadang juga memengaruhi kadar gula dalam darah. Kurang tidur dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam mengolah gula karena sensitivitas insulin melemah. Bahkan, tidur hanya lima sampai enam jam setiap malam bisa meningkatkan risiko pradiabetes.
Dari sisi mental, begadang dapat memicu rasa cemas dan depresi. Setelah tengah malam, kerja otak cenderung berubah, sehingga kontrol emosi melemah dan pikiran negatif lebih mudah muncul. Hal ini juga berkaitan dengan berkurangnya fase tidur REM (Rapid Eye Movement) yang penting untuk menjaga suasana hati tetap stabil.
Selain itu, menurut studi Harvard Medical School, kemampuan otak di siang hari juga akan menurun. Kurang tidur dapat menyebabkan brain fog atau pikiran terasa kabur, sehingga sulit fokus, lambat mengambil keputusan, dan lebih sering melakukan kesalahan. Bahkan, reaksi tubuh yang melambat bisa berbahaya, terutama saat berkendara.
Sistem kekebalan tubuh juga ikut terdampak. Kurang tidur membuat tubuh lebih mudah sakit atau terkena infeksi seperti flu. Padahal, tidur yang cukup dibutuhkan untuk memperbaiki sel imun dan menjaga daya tahan tubuh.
Dampak lain yang sering tidak disadari adalah munculnya pegal-pegal dan gangguan pencernaan. Tubuh yang dipaksa tetap terjaga saat seharusnya beristirahat bisa membuat otot menegang dan masalah pada sistem pencernaan. Gejala seperti kembung atau tubuh terasa kaku bisa menjadi tanda tubuh sedang kelelahan.
Oleh karena itu, penting untuk menjadikan tidur sebagai prioritas. Mulailah dengan mengatur jadwal tidur yang teratur dan mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur agar kualitas istirahat lebih baik. [Wakhdah Alisa Berliana]






