Surabaya (beritajatim.com) – Banyak orang merasa tenang saat melihat anggota keluarga tidur sambil mendengkur. Tidak jarang terdengar komentar seperti, “Wah, tidurnya nyenyak sekali sampai ngorok.” Di masyarakat, ngorok memang sering dianggap sebagai tanda tidur yang pulas atau karena tubuh sangat lelah.
Namun, dunia medis menyebutkan hal yang berbeda. Ngorok bukan tanda tidur nyenyak, melainkan tanda bahwa pernapasan anda sedang terganggu saat tidur. Suara dengkur muncul karena ada hambatan di saluran napas, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen.
Mengapa Suara Ngorok Muncul?
Ngorok terjadi ketika udara tidak bisa mengalir dengan lancar melalui hidung atau mulut saat tidur. Hambatan ini membuat jaringan lunak di tenggorokan, seperti langit-langit mulut dan lidah, bergetar saat udara lewat. Sehingga menimbulkan suara dengkur atau ngorok.
Penyebabnya bisa beragam. Bentuk tenggorokan tertentu, seperti langit-langit mulut rendah atau amandel besar, dapat membuat seseorang lebih mudah ngorok.
Kebiasaan merokok atau minum alkohol sebelum tidur juga bisa membuat otot tenggorokan terlalu rileks sehingga jalan napas menyempit. Selain itu, berat badan berlebih juga dapat menekan saluran napas di area leher.
Ngorok Bisa Menurunkan Kualitas Tidur
Memang, mendengkur paling sering terjadi saat seseorang berada pada fase tidur dalam atau tahap tidur paling pulas. Pada fase ini, otot-otot tubuh menjadi sangat rileks.
Namun, karena otot terlalu rileks, saluran napas bisa menyempit atau sebagian tertutup, sehingga menimbulkan dengkuran.
Jika terjadi terus-menerus, dengkuran dapat menurunkan kualitas tidur yang seharusnya membuat tubuh pulih dan segar. Akibatnya, meski sudah tidur cukup lama, orang yang sering mengorok kerap merasa lemas, pusing, atau mengantuk pada siang hari.
Kondisi ini terjadi karena otak berkali-kali mengalami gangguan kecil akibat kekurangan oksigen, meski tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.
Bahaya Kesehatan yang Mengintai
Sering ngorok juga bisa menjadi tanda gangguan serius yang disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pada kondisi ini, pernapasan dapat berhenti selama beberapa detik dan terjadi berulang kali saat tidur. Jika tidak ditangani, gangguan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Karena itu, ngorok tidak boleh dianggap sepele, terutama jika terjadi hampir setiap malam.
Mengembalikan Kualitas Tidur yang Sebenarnya
Untuk mengurangi ngorok, beberapa kebiasaan sederhana bisa dicoba. Misalnya tidur dalam posisi menyamping, menjaga berat badan tetap ideal, serta menghindari alkohol sebelum tidur.
Namun, jika ngorok disertai rasa tersedak saat tidur atau tubuh tetap terasa lelah meski sudah tidur cukup lama, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, penyebabnya bisa diketahui dan ditangani sejak dini. [Meychel Salsabyla]






