Ringkasan Berita
- Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud kembali digelar pada Kamis Legi.
- Ritual menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi dan keselamatan warga.
- Sesaji dilarungkan ke kawah Gunung Kelud oleh tokoh adat dan masyarakat.
- Perayaan budaya lanjutan akan berlangsung pada 28 Juni 2026.
Kediri (beritajatim.com) – Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri kembali digelar secara khidmat oleh masyarakat Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Kamis Legi (18/6/2026). Ritual budaya yang telah berlangsung turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah sekaligus doa bersama untuk keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan lereng Gunung Kelud.
Kegiatan tahunan yang menjadi bagian dari tradisi Bulan Suro tersebut diikuti unsur pemerintah kecamatan, kepala desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga warga yang datang untuk mengikuti prosesi sakral di kawasan kawah Gunung Kelud.
Larung Sesaji Jadi Tradisi Tahunan Masyarakat Lereng Kelud
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Ngancar, Moh. Muthoin, menjelaskan bahwa Larung Sesaji merupakan agenda budaya yang secara rutin digelar setiap Bulan Suro dalam kalender Jawa.
Menurutnya, ritual ini tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi sarana doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Kelud.
“Ya, ini tujuannya untuk disambil tradisi di wilayah Kecamatan Ngancar kaitannya dengan Kawah Gunung Kelud ini, juga tujuannya untuk keselamatan dan keberkahan. Tadi sudah disampaikan oleh Juru Kunci tadi kan bahwa ini untuk keselamatan warga di Desa Ngancar khususnya dan Kabupaten Kediri pada umumnya,” ujarnya.
Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Ngancar yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sesaji Dilarungkan ke Kawah Gunung Kelud
Prosesi Larung Sesaji Inti dilaksanakan di kawasan kawah Gunung Kelud dan diikuti oleh unsur Muspika Kecamatan Ngancar, kepala desa se-Kecamatan Ngancar, sesepuh adat, serta tokoh masyarakat.
Dalam ritual tersebut, berbagai sesaji yang telah dipersiapkan masyarakat dilarungkan ke kawah Gunung Kelud sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap alam.
Sesaji yang digunakan antara lain kepala kambing kendit, ayam cemani, nasi gurih, jenang, pisang emas, bunga setaman, serta berbagai perlengkapan adat lainnya.
Seluruh rangkaian prosesi dipimpin oleh tokoh adat dan pinisepuh desa yang memanjatkan doa-doa keselamatan, keberkahan, dan kemakmuran bagi masyarakat.
Doa untuk Keselamatan dan Kelimpahan Rezeki
Penjabat Kepala Desa Sugihwaras, Mariyana Dwi Noventi, menjelaskan bahwa inti dari ritual Larung Sesaji adalah ungkapan syukur atas karunia Tuhan berupa hasil pertanian dan peternakan yang menjadi sumber penghidupan warga lereng Gunung Kelud.
Selain itu, masyarakat juga memohon perlindungan dari berbagai potensi bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi di kawasan gunung berapi tersebut.
“Doanya yang pertama, kita bersyukur atas semua yang telah diberikan, atas kelimpahan rezekinya, panen hasil bumi, ternak itu diberi kemudahan. Kemudian doanya untuk ke depannya tetap kita memohon untuk keselamatan, jika nanti ada mungkin suatu bencana, kita meminta supaya semua seluruhnya yang ada di kaki Gunung Kelud terutama warga Desa Sugihwaras ini terhindar dari marabahaya,” terangnya.
Masyarakat juga memanjatkan doa agar para pemimpin di tingkat desa maupun kecamatan diberikan kemampuan dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kondusivitas wilayah.
Memiliki Makna Sosial dan Budaya yang Kuat
Menurut Mariyana, Larung Sesaji bukan sekadar ritual adat, tetapi juga memiliki nilai sosial yang sangat penting bagi masyarakat.
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat, kelompok pemuda, hingga warga dari berbagai dusun yang bersama-sama menjaga tradisi leluhur.
Kebersamaan yang terbangun dalam ritual tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat tradisi Larung Sesaji tetap bertahan hingga saat ini.
Selain mempererat hubungan sosial, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Perayaan Budaya Digelar Akhir Juni
Rangkaian Larung Sesaji Gunung Kelud belum berakhir pada prosesi inti di kawah gunung. Panitia masih menyiapkan Perayaan Larung Sesaji yang akan digelar pada Minggu, 28 Juni 2026, di kawasan wisata Gunung Kelud.
Perayaan tersebut akan menghadirkan berbagai atraksi budaya yang melibatkan masyarakat dan seniman lokal.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain pesta tumpeng, gunungan hasil bumi, pertunjukan reog, jaranan, tari tradisional, hingga sendratari yang dibawakan para pelajar dan kelompok seni dari wilayah sekitar.
Kegiatan ini terbuka bagi masyarakat umum maupun wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung kekayaan budaya masyarakat lereng Gunung Kelud.
Generasi Muda Diminta Menjaga Warisan Budaya
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, pemerintah kecamatan berharap tradisi Larung Sesaji tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Muthoin menegaskan bahwa kearifan lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang tidak boleh hilang ditelan perubahan zaman.
“Harapannya kepada generasi muda jangan sampai melepakan uri-uri budaya dan kearifan lokal. Meskipun sekarang ada era modern, digitalisasi, tapi kami berharap bahwa tradisi ini jangan sampai hilang, kearifan lokal maupun uri-uri budaya ini,” pungkasnya.
Melalui pelestarian tradisi Larung Sesaji, masyarakat Ngancar berharap nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur tetap hidup serta menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang. [nm/kun]






