Ringkasan Berita:
- Ribuan warga Desa Labruk Kidul menggelar tradisi Grebek Tempe untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram.
- Gunungan raksasa dibuat dari sekitar 6.000 potong Tempe Wedok hasil karya 18 perajin.
- Tempe Wedok merupakan kuliner khas Lumajang yang dibungkus pelepah pisang klutuk.
- Pemkab Lumajang berencana menjadikan Grebek Tempe sebagai agenda wisata tahunan daerah.
Lumajang (beritajatim.com) – Aroma khas kedelai fermentasi memenuhi gang-gang di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Senin (15/6/2026) malam. Ribuan warga berkumpul memeriahkan tradisi Grebek Tempe untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Pusat perhatian masyarakat tertuju pada sebuah gunungan raksasa yang tersusun dari ribuan potong Tempe Wedok, kuliner khas Desa Labruk Kidul yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Gunungan tersebut kemudian diarak mengelilingi desa dengan jarak lebih dari satu kilometer. Sepanjang perjalanan, warga melantunkan selawat Nabi yang diiringi tabuhan rebana, menciptakan suasana religius sekaligus meriah.
Kepala Desa Labruk Kidul, Agus Irianto, mengatakan Tempe Wedok merupakan warisan budaya leluhur yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat.
Menurutnya, proses pembuatan Tempe Wedok sebenarnya sama seperti tempe pada umumnya. Perbedaannya terletak pada ukuran yang lebih kecil dan penggunaan pelepah pisang klutuk sebagai pembungkus.
“Tempe wedok ini sudah ada dan diwariskan secara turun-temurun. Ada yang meyakini kalau bungkusnya tidak bisa pakai pelepah pisang lain selain jenis pisang klutuk,” ujar Agus.
Untuk membuat gunungan raksasa tersebut, dibutuhkan sekitar 18 perajin dengan total kurang lebih 6.000 potong Tempe Wedok.
Tradisi tersebut, kata Agus, juga menjadi upaya masyarakat menghidupkan kembali keberadaan Tempe Wedok yang mulai jarang dikenal generasi muda.
“Kami ingin eksiskan lagi Tempe Wedok yang sekarang sudah mulai dilupakan,” katanya.
Setelah selesai diarak keliling kampung, gunungan Tempe Wedok diperebutkan warga yang telah menunggu di sepanjang rute kirab.
Bagi masyarakat, Grebek Tempe bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur sekaligus ajang mempererat silaturahmi antarsesama warga.
“Senang saya selalu ikut Grebek Tempe setiap tahun. Ini semoga bisa terus berlanjut dan warga tambah rukun dan damai,” kata salah seorang warga, Manda Irawati.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengapresiasi tradisi tersebut sekaligus mengungkapkan bahwa Desa Labruk Kidul memang dikenal sebagai sentra produksi tempe yang memasok berbagai daerah.
Bahkan, produk olahan tempe dari desa tersebut kini telah digunakan sebagai bahan pangan di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lumajang.
“Ini luar biasa. Tempe adalah makanan sehat dengan protein tinggi dan sekarang produknya sudah masuk ke dapur-dapur MBG,” terang Indah.
Menurutnya, Grebek Tempe tidak hanya memiliki nilai budaya dan religius, tetapi juga mampu menjadi sarana promosi produk UMKM lokal yang telah menjadi identitas Desa Labruk Kidul.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang berencana menjadikan Grebek Tempe sebagai agenda wisata budaya tahunan yang masuk dalam kalender resmi daerah.
“Mereka sangat mandiri untuk perayaan setiap tahunnya. Tentu ke depan pemerintah akan support untuk mengembangkan bisnis mereka. Ini nanti akan kita rutinkan juga menjadi event daerah,” ungkap Indah. [has/beq]






